6 Tanda Kekerasan Pada Anak yang Sering Tak Disadari

thumb-1
thumb

By Gugah Nurani Indonesia

30 Juli 2025

437 Views

Tanda kekerasan pada anak bisa dikenali dengan mudah oleh orang dewasa. Namun, sayangnya tanda tersebut sering terabaikan karena dianggap hal yang wajar ketika anak ada dalam fase tumbuh kembang. 

Padahal, mengenali sejak dini bisa mencegah dampak psikologis dan fisik yang lebih berat di kemudian hari. Berikut ini beberapa tanda yang perlu diwaspadai.

6 Tanda Kekerasan pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Melansir dari DetikEdu, psikolog anak Vera I.Hadiwidjojo menyebutkan beberapa tanda kekerasan pada anak, 6 di antaranya adalah sebagai berikut: 
  1. Luka Atau Memar Pada Tubuh Anak: Luka fisik atau memar yang tidak sesuai cerita anak patut dicurigai sebagai bentuk kekerasan fisik.
  2. Barang Hilang Atau Rusak Tanpa Alasan yang Masuk Akal: Bila anak kehilangan barang penting atau barang rusak, Anda harus curiga dan mencari tahu lebih lanjut. Karena bisa jadi Anak dipaksa menjual atau menyerahkan barang karena ancaman. 
  3. Perubahan Pola Makan Dan Tidur: Waspada jika anak menjadi malas makan, sering mimpi buruk, mengompol walau sudah berhenti, sulit tidur, atau justru tidur terus-menerus.
  4. Kehilangan Minat Belajar: Anak bisa berbohong sakit untuk tidak masuk sekolah atau menunjukkan penurunan performa belajar tanpa alasan medis. 
  5. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial: Curigai jika tiba-tiba anak cenderung lebih menyendiri, tidak bergaul seperti biasa, atau tiba?tiba tidak memiliki teman akrab. 
  6. Perubahan emosi ekstrem: Anak yang mengalami kekerasan sering menunjukkan ledakan emosi yang tampak tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas. Amati lebih lanjut jika anak tiba-tiba marah atau kasar kepada orang di sekitarnya.
 

Mengapa Anak Takut Mengungkapkan Kekerasan yang Dialami?

Anak cenderung tidak bercerita karena merasa takut, malu, atau tidak percaya akan didengar. Bila pelaku adalah figur yang dikenali atau dipercaya, anak bisa merasa bersalah atau takut konsekuensi jika melapor. 

Inilah mengapa pentingnya orang dewasa untuk menciptakan lingkungan yang aman dan penuh empati, agar anak merasa nyaman untuk berbicara. 
 

Situasi yang Perlu Diwaspadai Orang Dewasa

Kekerasan pada anak tidak selalu terjadi di tempat atau waktu yang mencolok.  Berikut situasi yang harus diwaspadai: 
  1. Lingkungan keluarga yang tidak stabil (misalnya kekerasan dalam rumah tangga).
  2. Kehadiran orang dewasa dengan riwayat kekerasan dalam peran pengasuhan.
  3. Kurangnya pengawasan di sekolah, lingkungan sosial, atau ruang digital.
Memahami konteks dan situasi yang berisiko membantu orang dewasa melakukan deteksi dini serta mengambil langkah preventif yang tepat sebelum kekerasan terjadi atau berulang.
 

Hal yang Bisa Dilakukan Orang Dewasa

Jika melihat langsung adanya tanda kekerasan pada anak, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut: 
  1. Bangun komunikasi terbuka dan empatik: Luangkan waktu secara rutin, dengarkan keluh kesah anak tanpa menghakimi
  2. Pantau perubahan perilaku dan fisik: Awasi luka tak beralasan, perubahan pola makan/tidur, atau perilaku menyendiri.
  3. Ciptakan lingkungan aman: Jauhkan anak dari pelaku potensial, jauhi hukuman fisik di rumah, dan aktifkan jaringan pencegahan seperti tim PPK di sekolah.
  4. Libatkan ahli bila perlu: Konsultasi ke psikolog, dokter, atau laporan ke KPAI/instansi resmi jika terdapat indikasi kekerasan.
Mengenali tanda kekerasan pada anak adalah langkah awal yang krusial untuk memastikan mereka mendapatkan perlindungan sedini mungkin. Orang dewasa seperti orang tua, guru, dan anggota keluarga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak. 

Respons yang cepat dan tepat dapat membantu anak pulih serta mengembalikan hak mereka untuk tumbuh dan berkembang secara sehat dan bahagia. Yuk, kita perhatikan dan lebih peduli lagi dengan anak-anak di sekitar kita!

Baca Juga:

Pentingnya Konsumsi Air Bersih untuk Pencegahan Stunting
Kenali 7 Tanda Anak yang Tidak Mendapatkan Hak Dasarnya



Sumber:
DetikEdu Tanda Anak Alami Kekerasan
HaiBunda Bentuk dan Tanda Kekerasan pada Anak
Journal Universitas Negeri Yogyakarta Narifiyanti
 

Tags:

WhatsApp