Membangkitkan Warisan Kopi Arabika Kalosi Enrekang

thumb-1
thumb

By Gugah Nurani Indonesia

17 June 2025

806 Views

Di tengah hamparan pegunungan Latimojong yang hijau di Enrekang, Sulawesi Selatan, tumbuh sejenis kopi yang menjadi warisan berharga bagi masyarakat setempat: Kopi Arabika Kalosi. Lebih dari sekadar komoditas, kopi ini adalah simbol sejarah, budaya, dan ketahanan masyarakat Desa Tobalu dalam menjaga kualitas serta keberlanjutan hasil bumi mereka.
 

Sejarah Kopi Kalosi & Tantangan Petani Masa Pandemi

Nama “Kalosi” berasal dari sebuah pasar terkenal di Enrekang yang sejak zaman kolonial Belanda menjadi pusat perdagangan kopi. Pada masa itu, biji kopi dari wilayah ini sangat bernilai hingga ditukar dengan porselen, sutra, bahkan emas. 

Masyarakat Tobalu, yang telah menanam kopi sejak kunjungan bangsa Eropa pertama kali. Dikenal akan ketekunannya dalam membudidayakan varietas Arabika, khususnya jenis Line S dan Sigara Utang.

Namun, kejayaan Kopi Arabika Kalosi menghadapi tantangan saat masa Pandemi. Meski Harga kopi terus meningkat, jumlah panen dari tahun ke tahun justru menurun dari 2021-2023. Biaya produksi petani pun melonjak, mencapai lebih dari Rp2 juta per tahun per petani. 

Hal ini diperparah dengan kondisi tanaman kopi yang rata-rata telah berumur lebih dari 15 tahun, membutuhkan peremajaan untuk mempertahankan hasil produksi yang optimal. 
 

Menjawab Tantangan dengan Inovasi


Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI), bersama Koperasi Enrekang Timur Kasiturutan, mengambil langkah nyata untuk menjawab tantangan ini melalui pengembangan produk kopi Arabika Kalosi Single Origin Tobalu. GNI menerapkan pendekatan menyeluruh, dari hulu ke hilir, untuk meningkatkan kualitas dan daya saing kopi ini di pasar nasional maupun internasional.

Salah satu strategi utamanya adalah pelatihan Good Agriculture Practice bagi para petani, manajemen bisnis kopi untuk koperasi, serta perencanaan rantai pasok dan pengolahan biji kopi dengan metode full-wash processing. 

Metode full-wash processing dapat menghasilkan cita rasa yang lebih bersih sehingga karakter asam lebih menonjol. Selain kualitas, strategi pengembangan produk kopi arabika kalosi ini diharapkan dapat meningkatkan target produksi hingga 20 ton biji hijau per bulan. Inisiai ini juga berupaya memperoleh sertifikasi mutu sebagai jaminan untuk pasar ekspor.

Untuk menjaga keaslian dan transparansi, sistem Kalosi-Trees juga diterapkan. Melalui sistem ini, setiap biji kopi dapat ditelusuri hingga ke petani dan koordinat lahannya. Konsumen pun dapat merasakan kopi asli Kalosi langsung dari sumbernya, tanpa campur tangan pihak ketiga.
 

Tiga Kategori, Satu Cita Rasa Nusantara

Guna mendukung pengembangan produk Kopi Arabika Kalosi di Tobalu, Produk kopi ini dikategorikan menjadi tiga tingkatan berdasarkan kualitas:
  • Kalosi Specialty – memiliki skor cupping 85, aroma bunga segar, keasaman tinggi, dan sentuhan rasa cokelat yang halus. Diperuntukkan bagi penikmat kopi premium.
  • Kalosi Premium (Grade 1) – menawarkan aroma earthy dengan sedikit rasa cokelat dan kacang, cocok bagi pecinta rasa kopi yang kuat dan berkarakter.
  • Kalosi Community (Grade 2) – menyajikan pengalaman rasa yang lebih kompleks dengan aroma kacang, herbal, dan aftertaste yang asam-manis.

Ketiga kategori tersebut diproses melalui metode full-wash dengan standar kelembapan maksimal 13%, ukuran biji 15–19. Guna menjaga kualitas kopi tingkat cacat dikontrol dengan ketat.
 

Menuju Masa Depan yang Lebih Cerah


Upaya GNI dalam pemberdayaan petani kopi Tobalu tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tapi juga sosial. Dengan memperkuat koperasi dan mendorong regenerasi petani muda. Arabika Kalosi bukan hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga simbol masa depan cerah yang berakar dari tradisi dan kearifan lokal.

Kopi Arabika Kalosi dari Enrekang bukan sekadar secangkir minuman, melainkan perjalanan rasa, sejarah, dan harapan dari desa kecil bernama Tobalu menuju panggung dunia. Harapannya program pemberdayaan ekonomi masyarakat ini dapat menyejahterakan semakin banyak orang. 



Baca juga:

Belajar Mendengar Suara Anak: Tingkatkan Kesadaran Perlindungan Anak melalui Modul Hak Anak untuk Guru di Lombok

Dari Pelatihan Jadi Peluang Nyata: Program Magang GNI bersama Abuba
 

Ditulis oleh: Aisyah Indah Nastiti
Diedit oleh: Tim Fundraising & Communication Department

Tags:

WhatsApp