Wujudkan Pembelajaran Kreatif untuk Guru PAUD: Pengembangan Kurikulum Merdeka Berbasis Kearifan Lokal Manggarai
By Gugah Nurani Indonesia
9 October 2025
298 Views
Gugah Nurani Indonesia Manggarai Barat Community Development Project (CDP) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini dengan menyelenggarakan pelatihan pembelajaran kreatif bagi Guru PAUD. Tak hanya pelatihan guru biasa, pelatihan ini berfokus pada pengembangan kurikulum merdeka berbasis kearifan lokal Manggarai Barat.
Kegiatan Pelatihan Guru PAUD
Kegiatan ini diselenggarakan dalam 2 tahap yaitu pembahasan teoritis pada tanggal 18, 22, dan 27 September 2025 bertempat di Aula Paroki Roh Kudus Golo Welu. Sedangkan, simulasi dan praktek implementasi dari pembelajaran teoritis dilaksanakan di sekolah bersama anak-anak PAUD pada tanggal 23 September 2025 bertempat di PAUD Watu Dangka Desa Kolang.
Kegiatan ini diikuti oleh 15 orang Guru PAUD yang berasal dari Desa Lewur, Desa Sama, Desa Coal, Desa Pangga, Desa Suka Kiong, Desa Compang Suka, Desa Golo Pua, Desa Benteng Suru, Desa Kolang dan Desa Tueng. Fasilitator kegiatan ini Adalah Bapak Fransiskus De Gomes, S.Fil, M.Pd Dosen Program Studi Pendidikan Guru PAUD Universitas Katolik St. Paulus Ruteng.
Tema yang dibawakan pada pelatihan ini, adalah “Pengembangan Kurikulum Merdeka PAUD Berbasis Konteks Budaya Manggarai dan Pendekatan Deep Learning”.
Pembelajaran Baru yang Menyenangkan dan Dekat dengan Anak
Pembelajaran Baru yang Menyenangkan dan Dekat dengan anak
Anak usia dini merupakan generasi yang berada dalam masa keemasan perkembangan. Pada tahap ini, peran guru PAUD menjadi sangat strategis dalam memberikan stimulasi yang tepat, bukan hanya melalui pengajaran akademis, tetapi juga lewat pembentukan karakter, kreativitas, dan kemandirian.
Melalui pelatihan ini, GNI ingin membekali para guru dengan pemahaman baru tentang bagaimana menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan anak. Dengan pendekatan Kurikulum Merdeka, guru didorong untuk lebih leluasa mengembangkan metode ajar yang kreatif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Salah satu yang menjadi perhatian utama dalam pelatihan ini adalah bagaimana mengintegrasikan kearifan lokal dalam proses pembelajaran. Anak-anak akan lebih mudah memahami konsep baru apabila pembelajaran dikaitkan dengan realitas di sekitar mereka. Misalnya, memperkenalkan kebiasaan lokal setempat: Kokor Gola, Kue Serabe, Sobol, tempat Wisata Watu Pengang di Desa Golo Pua dan lainnya. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya melahirkan anak yang cerdas secara akademis, tetapi juga membangun rasa cinta terhadap budaya dan lingkungan mereka sendiri.
Ruang Belajar Guru untuk Berkembang
Selama empat hari, guru-guru PAUD tidak hanya menerima materi, tetapi juga berdiskusi, berlatih, dan mencoba menyusun modul ajar mereka sendiri. Pendekatan partisipatif ini diharapkan memberi ruang bagi guru untuk saling belajar dan menginspirasi agar bisa berkembang bersama.
Pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya praktik-praktik pembelajaran baru di kelas-kelas PAUD dampingan GNI. Guru yang terampil dan kreatif akan mampu menumbuhkan semangat belajar anak, sementara integrasi kearifan lokal akan membuat anak lebih bangga dengan identitas dan lingkungannya.
Mengajarkan kearifan lokal bukan sekadar memperkenalkan budaya, tetapi juga bagian dari pemenuhan hak anak untuk mengenal dan mencintai identitas budayanya sendiri. Anak-anak belajar tentang alam, permainan tradisional, hingga nilai-nilai sosial dari masyarakat mereka. Dengan demikian, pendidikan menjadi sarana warisan nilai budaya sekaligus memperkuat jati diri anak.
Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya tentang pelatihan guru, tetapi juga tentang investasi masa depan, membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan tidak meninggalkan akar budayanya. Di samping itu, pelatihan ini juga menjadi pintu masuk untuk menjamin hak anak dapat terpenuhi sejak dini.