Teman adalah Terapi, Mendengar untuk Mengubah Hidup
By Gugah Nurani Indonesia
11 Desember 2025
159 Views
Perjalanan dimulai dari pusat kota Tanjung, ibukota Kabupaten Lombok Utara, menuju SMPN Satap 4 Gangga, sebuah sekolah yang terletak jauh di dalam wilayah kecamatan, menempuh perjalanan sekitar 30-45 menit. Mula-mula, kendaraan menyusuri jalan utama yang merupakan jalur pantai Lombok Utara. Di sebelah kiri terhampar laut biru kehijauan, sesekali terlihat jajaran pohon kelapa melambai-lambai, seolah menjadi pagar alami antara jalanan dan pesisir. Jalanan terasa mulus, membiarkan laju kendaraan menikmati pemandangan lepas pantai yang jarang terhalang.
Pada satu titik, perjalanan berbelok dan meninggalkan jalur pantai yang datar memasuki wilayah perbukitan menuju pedalaman. Setelah menempuh tanjakan dan melintasi hutan kecil serta perkebunan warga setempat, sebuah bangunan sederhana menyambut, di sanalah SMPN Satap 4 Gangga berada.Saat memasuki pelataran sekolah yang mungil, kami disambut dengan suasana belajar yang terlihat dari jendela kelas. Mendekati ruang guru, seorang pria berusia sekitar 30 tahunan menyambut dengan senyum yang ramah. Beliau memperkenalkan diri sebagai salah satu guru, kemudian membawa kami kepada Kepala Sekolah beserta Wakilnya. Kami dipersilakan duduk di sebuah ruangan sederhana dan disuguhkan keramahan yang merupakan hasil dari kebun sekolah, masing-masing sebatok Kelapa Muda. Perbincangan dimulai dengan santai, bercerita tentang gambaran singkat sekolah dari masa ke masa beserta karakter masyarakat, lewat gambaran para orang tua peserta didik.
Dari cerita itulah kami tahu bahwa "Satap" merupakan singkatan dari Satu Atap, mengacu pada fungsi sekolah yang menyelenggarakan pendidikan untuk beberapa jenjang pada lokasi yang sama, terutama karena daerah tersebut sulit dijangkau dengan populasi yang sedikit, sehingga jumlah siswanya pun tidak banyak. Peserta didik di sekolah tersebut kurang lebih hanya berjumlah sekitar 100-an orang. Sekolah tersebut bukan hanya tempat belajar bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun juga berbagi ruang dengan Sekolah Dasar (SD) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).
Permasalahan Anak Remaja
Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah dan para guru, permasalahan siswa yang menjadi sorotan adalah kenakalan, perundungan dan pernikahan anak. Hal ini karena cukup banyak siswa berasal dari keluarga yang tidak lengkap. Lalu orang tua yang bercerai tersebut, meninggalkan desa demi mencari pekerjaan sampai ke luar negeri. Tidak sedikit dari anak-anak korban perceraian tersebut yang kemudian dititipkan kepada kakek, nenek atau kerabat di desa, sehingga mereka tidak mendapatkan pengasuhan dan perhatian yang cukup.Adapun yang masih tinggal bersama salah satu orang tuanya, tetap tidak mendapat perhatian dan pengasuhan yang optimal, karena orang tua mereka menikah lagi dan lebih memperhatikan pasangan barunya. Hilangnya peran pengasuhan inilah yang secara tidak langsung menimbulkan kenakalan, perilaku merundung sesama teman, bahkan lebih buruk membawa pada pergaulan bebas yang mengakibatkan pernikahan.
Menyadari akan keadaan tersebut, GNI memperkenalkan Program Peer Counsellor (konselor sebaya). Di daerah perkotaan, program ini bisa jadi bukan merupakan hal yang istimewa, namun di area rural seperti SMPN Satap 4, ini menjadi sesuatu yang fenomenal dengan implementasi yang cukup menantang.
Program Peer Counsellor atau Konselor Sebaya sebagai Dukungan Emosional Anak

Salah satu alasan utama yang membuat program ini krusial adalah karena peer counsellor merupakan lini pertahanan pertama bagi remaja yang membutuhkan tempat curhat atau dukungan emosional. Terutama bagi para remaja yang berada di Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara yang mayoritas adalah Suku Sasak dengan adat yang masih kental, dalam menghadapi isu-isu sensitif yang dipengaruhi budaya, seperti pernikahan anak dan kekerasan. Kebutuhan ini timbul karena adanya kesenjangan antara ketersediaan layanan profesional dan kuatnya pengaruh sistem nilai tradisional.
Sebelum GNI menginisiasi program peer counsellor, tidak pernah terpikirkan oleh pihak sekolah betapa kompleksnya permasalahan yang dihadapi siswa di usia remaja. Guru Bimbingan Konseling tidak menduga bahwa hanya karena selama ini tidak ada siswa yang datang meminta bimbingan, bukan berarti para siswa tidak menghadapi isu-isu pribadi yang mendalam dan sensitif, mulai dari tekanan akademik, kekerasan emosional di rumah, hingga ancaman perundungan yang luput dari pantauan orang dewasa. Ketiadaan peer counsellor sebelumnya telah menciptakan kekosongan ruang aman di mana isu-isu tersebut terkunci rapat, tidak terdeteksi, dan berpotensi menjadi bom waktu yang mengganggu kesehatan mental serta keselamatan fisik para remaja.
Cerita dari Para Peer Counsellors sebagai Tempat Curhat

Siang itu, 2 orang siswa bernama Agung dan Cinta, datang bergabung untuk bercerita. Mereka adalah perwakilan peer counsellor SMPN Satap 4 Gangga dari kelas 9. Mereka dipilih untuk mengikuti program GNI dan tidak pernah tahu alasan dipilihnya menjadi peer counsellor. Namun, mereka sangat bersyukur atas ilmu yang didapat dari kegiatan dan fungsi tersebut.
Agung misalnya, disadarkan bahwa pernikahan anak tidak hanya berdampak pada anak perempuan, namun juga laki-laki. Kenyataannya, menikah berarti ada kebebasan yang hilang digantikan dengan tanggung jawab. Menikah berarti siap meninggalkan bangku sekolah, karena harus bekerja demi menghidupi pasangan, bahkan jika langsung memiliki anak, maka ada manusia lain yang harus ditanggung biaya hidupnya. Waktu yang seharusnya dipakai untuk bermain dan belajar, harus dihabiskan untuk bekerja membanting tulang. Sementara di masa ekonomi sulit ini, pekerjaan dengan penghasilan memadai, menuntut latar belakang Pendidikan yang tinggi.
Kesulitan ekonomi yang dialami akan terakumulasi dengan tugas dan tanggung jawab lainnya sebagai seorang suami dan ayah, yang sesungguhnya belum siap dilakoni oleh anak-anak seusia Agung. Hal ini secara langsung juga berdampak pada kesehatan mental. Agung baru menyadari bahwa pernikahan itu bisa sangat berdampak secara psikologis kepada laki-laki juga.
Lain halnya dengan Cinta, yang sudah sering diingatkan oleh sang Ibu untuk berhati-hati dalam pergaulan. Ibu Cinta menceritakan kisah dari keluarga maupun teman Perempuan beliau yang terjebak dalam pernikahan anak dan berakhir dengan perceraian. Menurut kisah yang didapat Cinta dari ibunya, anak Perempuan yang menikah dini tidak jarang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Seolah belum cukup, mereka harus menghadapi kehamilan, proses melahirkan dan membesarkan anak sendirian.
Sebagai anak Perempuan, bayangan pernikahan di usia belasan, putus sekolah, kemudian hamil, melahirkan dan membesarkan anak, sangat menakutkan bagi Cinta. Sebab dia masih ingin menikmati masa-masa remaja bersama teman-teman di sekolah, membicarakan hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, belajar serta bermimpi untuk bisa kuliah dan kemudian bekerja. Cinta sangat menyadari bahwa semua itu harus dia tinggalkan jika menikah di usia belia.
Perjalanan Mendapat Kepercayaan Teman-teman Sebaya

Melebihi dari itu semua, kehadiran peer counsellor menjadi angin segar bagi para siswa di SMPN Satap 4 Gangga. Agung dan Cinta dipandang oleh teman-temannya sebagai tempat curhat yang memahami kegalauan mereka. Anak remaja cenderung lebih terbuka dan nyaman berbagi masalah dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua, guru, atau konselor profesional. Tentunya, proses yang dilalui Agung dan Cinta untuk mendapat kepercayaan dari teman-teman mereka tidaklah mudah. Sebab, nilai budaya yang melekat, menyebabkan para remaja, terutama Perempuan, kesulitan, atau bahkan takut, untuk menceritakan kegalauan, masalah pribadi, atau rencana hidup mereka kepada orang tua. Hal ini membuat mereka tidak terbiasa mencurahkan isi hati dan pikiran kepada orang lain, termasuk juga teman sebaya.
Namun, Agung dan Cinta tidak mau menyerah, sebab mereka memiliki kerinduan untuk dapat menjadi sosok yang hadir bagi sesama teman, seperti halnya yang mereka butuhkan. Sebelum mengikuti program peer counsellor, tidak pernah terpikirkan oleh Agung, bahwa kehadiran seorang teman yang dapat dijadikan tempat berbagi cerita, bisa sangat berarti pada masa yang sulit. Dia juga ingin teman-temannya memahami, pentingnya untuk mengenal diri, agar tidak mudah terjebak dalam pergaulan yang salah.
Mengenal diri membuat mereka mampu memahami perasaan dan pikiran yang berkecamuk, yang normalnya dialami oleh remaja seusia mereka. Pengenalan dan pemahaman diri ini lalu menyadarkan bahwa apa yang mereka alami dan rasakan adalah normal dan mereka tidak sendirian. Perasaan tidak sendirian itulah yang mendorong para siswa untuk mulai membuka diri kepada peer counsellor.
Agung dan Cinta membangun kedekatan dengan teman-teman mereka lewat bermain, yang mereka pelajari dari pelatihan dan pendampingan GNI. Perlahan mereka meraih kepercayaan dan kenyamanan sebagai peer counsellor. Satu per satu, teman mereka mendekat untuk mencurahkan isi hati. Terkadang juga, Agung dan Cinta yang mendatangi, jika terlihat ada teman yang sedang membutuhkan tempat berbagi. Menurut Agung, seorang peer counsellor harus memiliki kepekaan terhadap satu sama lain, sebab masih banyak siswa yang merasa malu untuk memulai duluan.
Dampak Positive Program Peer Counsellor
Terlepas dari semua tugas dan fungsi, maupun kebutuhan atas keberadaan peer counsellor di sekolah, hal yang menjadi sorotan terhadap program ini adalah munculnya dampak psikososial pada diri Agung dan Cinta. Lewat pengalaman sebagai seorang peer counsellor, terjadi perkembangan diri dan perubahan perspektif, yang sebelumnya fokus pada diri sendiri kemudian menjadi individu yang berorientasi sosial. Hal ini merupakan langkah penting dalam proses pematangan psikologis mereka sebagai remaja.Menyadari bahwa program ini baru berjalan kurang dari 1 tahun, dampak transformatif yang signifikan dan mendalam, lebih dulu terjadi pada diri siswa yang berperan sebagai konselor, dibandingkan dengan teman-teman yang dibantu. Agung dan Cinta, mengalami pematangan psikologis yaitu dalam hal objektifitas cara pandang, kebermaknaan terhadap sesama dan kepekaan sosial. Sebagai contoh, Agung menemukan bahwa dia tidak sendirian mengalami gejolak sebagai remaja, bahkan beberapa temannya mengalami isu serius yang tersembunyi.
Dia juga belajar untuk tidak mudah menghakimi, melainkan lebih pengertian terhadap kondisi teman-temannya. Sedangkan Cinta semakin menghargai nilai sebuah kepercayaan dan merasakan bahwa menjadi seseorang yang dipercaya adalah sebuah makna tersendiri akan peran sosialnya di sekolah.
Peer counsellor mungkin tidak serta merta akan menyelesaikan permasalahan kompleks yang dialami para remaja. Namun, memiliki sosok yang dapat dipercaya, yang bersedia menjadi pendengar tanpa menghakimi, dapat menjadi terapi yang mengubah kehidupan.
Baca juga:
Cita-cita Mulia Maulana Menjadi Guru untuk Menebar Manfaat
Dari Kursi Sekolah ke Mesin Kopi: Perjalanan Anak Sponsor Menjadi Profesional
Ditulis oleh: Luwyse Hasianni Sianipar - MELA Officer
Diedit oleh: Tim F&CD
ID
EN