Dari Kursi Sekolah ke Mesin Kopi: Perjalanan Anak Sponsor Menjadi Profesional
By Gugah Nurani Indonesia
12 November 2025
221 Views
Di sebuah cafe di kawasan Pancoran, seorang barista muda bernama Fabiano menyambut pelanggan dengan senyum hangat. Tangannya cekatan menyeduh kopi, dan dengan tenang ia meracik minuman sesuai pesanan. Sudah lebih dari setahun Fabiano bekerja di sana. Ia kini bukan lagi anak muda yang canggung saat memegang mesin espresso atau gugup saat berbicara dengan pelanggan. Ia sudah menjadi barista andalan, dipercaya, dan dihargai oleh rekan kerja serta pelanggan tetap.
Dengan penghasilan yang didapatkannya dari pekerjaan tersebut, Fabiano ikut menopang kebutuhan hidup keluarganya—ibu, dua adik, serta kerabatnya. Tak hanya menguasai teknik meracik kopi, ia juga belajar menghadapi orang dari berbagai latar belakang. Hal ini memperbaiki kemampuan komunikasinya, dan membentuk disiplin diri yang kuat. Tak ada lagi rasa gengsi dalam dirinya. Pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah kebanggaan. Namun, jalan menuju titik ini bukanlah jalan yang lurus.

Fabiano bukan berasal dari keluarga berada. Sejak duduk di bangku kelas 4 SD, ia sudah menjadi anak sponsor GNI. Bantuan dari GNI sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sekolah dan kebutuhan harian. Dari perlengkapan sekolah hingga bahan makanan, semua itu memberi napas lega bagi keluarganya yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang terus meningkat.
Ketika Fabiano masuk SMK dan memilih jurusan Ilmu Pemasaran, ia belum benar-benar memahami apa yang ingin ia kejar. Baru ketika dia duduk di kelas dua, ia mulai menyukai dunia pemasaran—bagaimana membangun relasi, mengenali pasar, dan menciptakan strategi komunikasi. Saat lulus, ia sudah mengantongi sertifikat yang dapat membantunya untuk mendapatkan kerja sesuai jurusan dan pengalamannya.
Ketika Fabiano menamatkan SMK, dia berencana untuk melanjutkan kuliah di jurusan perhotelan. Fabiano sudah diterima di salah satu kampus. Namun, takdir berkata lain. Salah satu anggota keluarganya mengalami sakit keras pada saat itu sehingga uang yang disiapkan untuk kuliah terpaksa dialihkan untuk biaya pengobatan.
Sebagai anak sulung, Fabiano mengambil tanggung jawab besar di pundaknya: ia harus bekerja untuk membantu keluarga. Ia pun memilih untuk tidak kuliah dan mencari pekerjaan.
Mencari kerja bukanlah hal mudah. Ia melamar ke berbagai posisi yang tersedia namun belum berhasil. Suatu ketika, ia pernah mencoba melamar sebagai barista, akan tetapi ia gagal saat wawancara karena tidak memiliki latar belakang atau keterampilan khusus. Perasaan kecewa menghampiri, namun Fabiano tidak menyerah.

Fabiano merupakan mantan anak sponsor Batavia CDP. Batavia CDP memiliki fokus pada youth empowerment programs yang bertujuan untuk membantu pemuda-pemudi di komunitas dampingan agar dapat mandiri melalui bekerja dan menjadi wirausaha.
Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Batavia CDP meliputi membantu youth dalam memetakan bakat dan minat, menjembatani akses-akses untuk pelatihan keterampilan kerja dan wirausaha serta internship, membantu mengakses permodalan, hingga pendampingan dalam menjalankan bisnis yang diinisiasi oleh pemuda.
Sebuah titik balik datang saat ia menghadiri acara perpisahan anak sponsor GNI Batavia CDP, yang menjadi salah satu kegiatan youth empowerment program. Di sana, ia mendapat informasi tentang pelatihan barista dari Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta (PPKD).
Fabiano langsung menyambut baik kesempatan itu. Dengan semangat, ia pun melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan dan mengikuti alur-alur pendaftaran program tersebut. Fabiano pun dinyatakan lolos setelah melalui seleksi wawancara.
Pelatihan berlangsung selama 20 hari, dari pagi hingga sore. Dalam pelatihan tersebut, Fabiano mempelajari dasar-dasar dunia kopi: sejarah kopi, teknik seduh manual dan otomatis, mengenal jenis biji kopi, hingga teknik melayani pelanggan.
Semakin dalam ia belajar, semakin besar ketertarikannya pada dunia kopi. Ia tidak hanya belajar teori, tetapi juga membangun koneksi dan relasi dengan peserta lain dari berbagai latar belakang profesi.
Selama pelatihan, Batavia CDP juga memberikan dukungan berupa uang transportasi, yang diberikan saat pelatihan berakhir. Hal ini merupakan bentuk support yang yang diberikan GNI agar pemuda di komunitas dapat mengakses pelatihan tanpa ada hambatan yang berarti.
Support ini juga membantu Fabiano lebih fokus pada pelatihan tanpa perlu mengkhawatirkan biaya yang ditimbulkan untuk datang ke PPKD yang jaraknya cukup jauh dari rumah Fabiano.
Setelah menyelesaikan pelatihan dan memperoleh sertifikat kompetensi barista, Fabiano tidak berhenti. Salah satu teman pelatihan mengajaknya ke sebuah kedai kopi tempat mereka sering belajar. Di sana, Fabiano mulai terjun langsung ke dunia praktis. Ia rajin bertanya kepada pemilik kedai dan belajar dari pengalaman langsung. Sikap tekunnya menjadi modal besar dalam menambah wawasan di luar pelatihan.
Lalu datang kesempatan emas: pemilik kedai tempat ia belajar memberitahunya tentang lowongan part-time di sebuah kafe di daerah Pancoran Jakarta. Tanpa ragu, Fabiano melamar. Ia diterima dan memulai masa percobaan selama tiga bulan.
Masa-masa awal bekerja penuh tantangan. Selain menyeduh kopi, ia juga bertugas sebagai kasir dan melayani pelanggan. Tapi dari situ, ia belajar banyak. Ia menyerap ilmu dari barista senior, memperdalam keterampilan, dan semakin percaya diri. Setelah tiga bulan, ia resmi menjadi karyawan tetap.
Kini, setiap hari Fabiano menjalani rutinitas yang ia cintai. Ia tak hanya menyajikan kopi, tapi juga membangun hubungan dengan pelanggan. Ia belajar tentang manajemen waktu, komunikasi efektif, bahkan cara mengelola emosi. Dulu, ia mudah marah saat hal tak berjalan sesuai rencana. Sekarang, ia belajar menghadapi masalah dengan tenang.
Meski hidupnya sudah jauh lebih stabil dibanding sebelumnya, perjuangannya belum usai. Hingga kini, Fabiano belum bisa menabung untuk kuliah di jurusan komunikasi—impian yang sudah lama ia pendam. Semua penghasilannya masih digunakan untuk keluarga. Satu adiknya masih sekolah, dan yang satunya lagi masih kecil. Ibunya pun masih bekerja di sektor perhotelan demi membantu ekonomi keluarga.
Namun Fabiano tidak kehilangan harapan. Ia ingin dalam dua tahun ke depan, bisa bekerja sambil kuliah. Ia tahu jalan itu mungkin berat, tapi dari perjalanan hidupnya sejauh ini, ia percaya satu hal: setiap perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa hasil pada waktunya.
Kisah Fabiano adalah kisah tentang keberhasilan yang lahir dari ketekunan, dan perjuangan yang tak pernah berhenti bahkan saat keberhasilan sudah digenggam. Ia adalah contoh nyata bahwa anak muda dari latar belakang sederhana pun bisa sukses, selama mereka tak berhenti belajar, bekerja keras, dan percaya pada diri sendiri.
Baca juga:
Ditulis oleh: Hanita Putra Djaya - Mela Officer
Diedit oleh: Tim FD
Dengan penghasilan yang didapatkannya dari pekerjaan tersebut, Fabiano ikut menopang kebutuhan hidup keluarganya—ibu, dua adik, serta kerabatnya. Tak hanya menguasai teknik meracik kopi, ia juga belajar menghadapi orang dari berbagai latar belakang. Hal ini memperbaiki kemampuan komunikasinya, dan membentuk disiplin diri yang kuat. Tak ada lagi rasa gengsi dalam dirinya. Pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah kebanggaan. Namun, jalan menuju titik ini bukanlah jalan yang lurus.
Awal Perjalanan Fabiano

Fabiano bukan berasal dari keluarga berada. Sejak duduk di bangku kelas 4 SD, ia sudah menjadi anak sponsor GNI. Bantuan dari GNI sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sekolah dan kebutuhan harian. Dari perlengkapan sekolah hingga bahan makanan, semua itu memberi napas lega bagi keluarganya yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang terus meningkat.
Ketika Fabiano masuk SMK dan memilih jurusan Ilmu Pemasaran, ia belum benar-benar memahami apa yang ingin ia kejar. Baru ketika dia duduk di kelas dua, ia mulai menyukai dunia pemasaran—bagaimana membangun relasi, mengenali pasar, dan menciptakan strategi komunikasi. Saat lulus, ia sudah mengantongi sertifikat yang dapat membantunya untuk mendapatkan kerja sesuai jurusan dan pengalamannya.
Ketika Fabiano menamatkan SMK, dia berencana untuk melanjutkan kuliah di jurusan perhotelan. Fabiano sudah diterima di salah satu kampus. Namun, takdir berkata lain. Salah satu anggota keluarganya mengalami sakit keras pada saat itu sehingga uang yang disiapkan untuk kuliah terpaksa dialihkan untuk biaya pengobatan.
Sebagai anak sulung, Fabiano mengambil tanggung jawab besar di pundaknya: ia harus bekerja untuk membantu keluarga. Ia pun memilih untuk tidak kuliah dan mencari pekerjaan.
Mencari kerja bukanlah hal mudah. Ia melamar ke berbagai posisi yang tersedia namun belum berhasil. Suatu ketika, ia pernah mencoba melamar sebagai barista, akan tetapi ia gagal saat wawancara karena tidak memiliki latar belakang atau keterampilan khusus. Perasaan kecewa menghampiri, namun Fabiano tidak menyerah.
Menyambut Kesempatan Demi Kesempatan

Fabiano merupakan mantan anak sponsor Batavia CDP. Batavia CDP memiliki fokus pada youth empowerment programs yang bertujuan untuk membantu pemuda-pemudi di komunitas dampingan agar dapat mandiri melalui bekerja dan menjadi wirausaha.
Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Batavia CDP meliputi membantu youth dalam memetakan bakat dan minat, menjembatani akses-akses untuk pelatihan keterampilan kerja dan wirausaha serta internship, membantu mengakses permodalan, hingga pendampingan dalam menjalankan bisnis yang diinisiasi oleh pemuda.
Sebuah titik balik datang saat ia menghadiri acara perpisahan anak sponsor GNI Batavia CDP, yang menjadi salah satu kegiatan youth empowerment program. Di sana, ia mendapat informasi tentang pelatihan barista dari Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta (PPKD).
Fabiano langsung menyambut baik kesempatan itu. Dengan semangat, ia pun melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan dan mengikuti alur-alur pendaftaran program tersebut. Fabiano pun dinyatakan lolos setelah melalui seleksi wawancara.
Pelatihan berlangsung selama 20 hari, dari pagi hingga sore. Dalam pelatihan tersebut, Fabiano mempelajari dasar-dasar dunia kopi: sejarah kopi, teknik seduh manual dan otomatis, mengenal jenis biji kopi, hingga teknik melayani pelanggan.
Semakin dalam ia belajar, semakin besar ketertarikannya pada dunia kopi. Ia tidak hanya belajar teori, tetapi juga membangun koneksi dan relasi dengan peserta lain dari berbagai latar belakang profesi.
Selama pelatihan, Batavia CDP juga memberikan dukungan berupa uang transportasi, yang diberikan saat pelatihan berakhir. Hal ini merupakan bentuk support yang yang diberikan GNI agar pemuda di komunitas dapat mengakses pelatihan tanpa ada hambatan yang berarti.
Support ini juga membantu Fabiano lebih fokus pada pelatihan tanpa perlu mengkhawatirkan biaya yang ditimbulkan untuk datang ke PPKD yang jaraknya cukup jauh dari rumah Fabiano.
Setelah menyelesaikan pelatihan dan memperoleh sertifikat kompetensi barista, Fabiano tidak berhenti. Salah satu teman pelatihan mengajaknya ke sebuah kedai kopi tempat mereka sering belajar. Di sana, Fabiano mulai terjun langsung ke dunia praktis. Ia rajin bertanya kepada pemilik kedai dan belajar dari pengalaman langsung. Sikap tekunnya menjadi modal besar dalam menambah wawasan di luar pelatihan.
Langkah-langkah Penuh Ketekunan Menuju Keberhasilan
Motivasinya semakin kuat. Dunia kopi tidak hanya menjanjikan pekerjaan, tetapi juga karier yang bisa terus berkembang.Lalu datang kesempatan emas: pemilik kedai tempat ia belajar memberitahunya tentang lowongan part-time di sebuah kafe di daerah Pancoran Jakarta. Tanpa ragu, Fabiano melamar. Ia diterima dan memulai masa percobaan selama tiga bulan.
Masa-masa awal bekerja penuh tantangan. Selain menyeduh kopi, ia juga bertugas sebagai kasir dan melayani pelanggan. Tapi dari situ, ia belajar banyak. Ia menyerap ilmu dari barista senior, memperdalam keterampilan, dan semakin percaya diri. Setelah tiga bulan, ia resmi menjadi karyawan tetap.
Kini, setiap hari Fabiano menjalani rutinitas yang ia cintai. Ia tak hanya menyajikan kopi, tapi juga membangun hubungan dengan pelanggan. Ia belajar tentang manajemen waktu, komunikasi efektif, bahkan cara mengelola emosi. Dulu, ia mudah marah saat hal tak berjalan sesuai rencana. Sekarang, ia belajar menghadapi masalah dengan tenang.
Meski hidupnya sudah jauh lebih stabil dibanding sebelumnya, perjuangannya belum usai. Hingga kini, Fabiano belum bisa menabung untuk kuliah di jurusan komunikasi—impian yang sudah lama ia pendam. Semua penghasilannya masih digunakan untuk keluarga. Satu adiknya masih sekolah, dan yang satunya lagi masih kecil. Ibunya pun masih bekerja di sektor perhotelan demi membantu ekonomi keluarga.
Namun Fabiano tidak kehilangan harapan. Ia ingin dalam dua tahun ke depan, bisa bekerja sambil kuliah. Ia tahu jalan itu mungkin berat, tapi dari perjalanan hidupnya sejauh ini, ia percaya satu hal: setiap perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa hasil pada waktunya.
Kisah Fabiano adalah kisah tentang keberhasilan yang lahir dari ketekunan, dan perjuangan yang tak pernah berhenti bahkan saat keberhasilan sudah digenggam. Ia adalah contoh nyata bahwa anak muda dari latar belakang sederhana pun bisa sukses, selama mereka tak berhenti belajar, bekerja keras, dan percaya pada diri sendiri.
Baca juga:
Dari Putus Sekolah Menjadi Wirausaha: Cerita Salfa Tumbuhkan Mimpi-mimpinya Kembali dari Akses Pelatihan
Dari Borong ke Langit: Perjalanan Yohana Fransiska, Lulusan Program Sponsor Anak GNI
Ditulis oleh: Hanita Putra Djaya - Mela Officer
Diedit oleh: Tim FD
ID
EN