Perjalanan Muharrar Bangkit dari Tsunami Aceh

thumb-1
thumb

By Gugah Nurani Indonesia

11 March 2026

32 Views

Bencana tsunami di Aceh pada 2004 silam menciptakan luka yang dalam bagi bumi pertiwi. Saat itu, rumah-rumah hanyut, kehidupan tersapu, dan mimpi-mimpi hilang terbawa arus. Kehilangan harta benda hingga nyawa memberikan duka yang membekas. Tak sedikit anak yang kehilangan anggota keluarganya, salah satunya Muharrar, seorang anak asal Lepung Aceh Besar.

Pada 2004, gelombang tsunami merenggut segalanya dari Muharrar. Dalam sekejap, ia kehilangan orang tua dan dua adiknya, meninggalkannya sebatang kara. Hidup yang tadinya hangat berubah menjadi sunyi. Bencana ini membawanya ke Meulaboh, Aceh Barat. Di sana ia tinggal bersama pamannya. Tumbuh sebagai sebatang kara di usia belia, membuatnya merasa sendiri. Namun, dari puing-puing lukanya, terdapat harapan yang perlahan tumbuh kembali.
 

Perjalanan Titik Balik Muharrar dari Tsunami Aceh

Saat pindah ke Meulaboh, Muharrar mulai kembali bersekolah, tepatnya di MIN Drien Rampak. Perlahan ia mulai bangkit, harapan-harapan akan masa depan mulai tumbuh. Pada 2007 ia mulai menjadi anak sponsor Gugah Nurani Indonesia (GNI). Saat itu ia baru memasuki kelas 5 SD, ia merasa sangat senang menjadi salah satu anak yang terpilih menjadi anak sponsor GNI. 

Melalui program sponsor GNI, ia tak hanya menerima bantuan perlengkapan sekolah dan makanan bergizi, tapi juga dukungan emosional yang menyembuhkan. Kegiatan belajar bersama, kunjungan penuh semangat dari kakak-kakak GNI, dan kehangatan komunitas membuatnya kembali tersenyum dan berani bermimpi. 
Kehidupannya mulai diwarnai semangat baru. “Semangat saya untuk sekolah semakin besar karena sering dikunjungi kakak-kakak GNI”, jelas Muharrar tentang dukungan dan keberadaan GNI semasa ia kecil. “Saya dapat motivasi untuk meraih masa depan yang lebih cerah dari kakak-kakak GNI”, lanjutnya. 
 

Meraih Mimpi dan Masa Depan

Pada 2014, Muharrar lulus dari sekolah dan sekaligus menjadi tahun terakhir Muharrar menjadi anak sponsor GNI. Dari bekal dan motivasi yang ia dapatkan dari GNI, ia pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi di POLTEKKES Aceh jurusan Therapist Gigi. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya di tahun 2019 dan mulai bekerja sebagai Asisten Dokter Gigi. 

“Saya merasa tidak sendiri lagi,” kenang Muharrar. Perjalanan itu membawanya hingga lulus kuliah di Poltekkes Aceh, jurusan Terapi Gigi, dan kini bekerja sebagai asisten dokter gigi. “Berkat para sponsor, saya bisa bangkit dan punya masa depan,” ucapnya. Dari seorang anak yang kehilangan segalanya, kini ia menjadi sosok yang membantu orang lain tersenyum kembali.



Baca Juga:

Perjalanan Alif dari Anak Sponsor Menjadi Pengusaha Angkringan
Gerakan Ekoliterasi: Transformasi SDN 1 Rempek, Dari Gerbang Sekolah Menuju Perubahan Desa


Ditulis dan diedit: Fundraising & Communications Department

 

Tags:

WhatsApp