Air yang Kembali Mengalir, Harapan yang Kembali Tumbuh di Dusun Pringapus, Yogyakarta
By Gugah Nurani Indonesia
23 April 2026
41 Views
Warga Dusun Pringapus, Kulon Progo, punya gawe di hari Rabu, 4 Februari 2026. Sebuah pesta kecil merayakan kembali mengalirnya air bersih di pipa-pipa air di rumah mereka. Di hari inilah sebuah fasilitas air bersih diresmikan dan diserahkan pengelolaannya secara mandiri dari Gugah Nurani Indonesia (GNI) kepada masyarakat Pringapus.
Fasilitas air bersih ini sudah lama terbengkalai karena sumber air yang berasal dari sumur bor kering. Debit airnya pun kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan 100 KK yang mencapai 303 warga untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan kurangnya air justru merusak fungsi pompa yang telah ada.
Pembangunan ini didukung oleh GNI melalui pengadaan material, namun pengerjaannya 100 persen dilakukan dengan gotong royong sukarela, sebuah nilai sosial yang masih sangat kuat dalam masyarakat Jawa.

Lebih menarik lagi ketika mendengarkan cerita-cerita dari warga saat peresmian dilakukan. Warga berbagi tentang bagaimana mereka menjalani hidup dan bertahan dengan kondisi alam yang ada. Kisah-kisah tentang sulitnya air menjadi bagian dari ingatan kolektif warga.
Mbah Sardi, salah satu tokoh masyarakat, mengenang bagaimana musim kemarau selalu menjadi masa paling berat. “Setiap kemarau kita kehabisan air, jadi harus mencari air jauh. Sudah terbiasa,” tuturnya pelan.
Cerita serupa datang dari Bu Ning, Kepala Sekolah Kelompok Bermain Yudhistira. Ia mengingat masa kecilnya di tahun 1990-an, ketika warga harus menggendong tembikar untuk mengambil air. Kebiasaan itu, meski dengan wadah berbeda seperti jerigen atau galon, ternyata masih berlangsung hingga kini.
Bagi sebagian warga, air bersih bahkan harus diambil dari dusun lain. Bu Yuriyah, seorang guru di KB Yudhistira, masih rutin mengambil air minum dari sumber di pinggir sungai di Dusun Sabrang. Di sana sudah ada sumber air yang sudah tersertifikasi aman oleh Puskesmas. “Untuk minum saya khusus ambil dari mata air itu, Kak. Kalau untuk cuci kakus, mungkin bisa air apa saja. Sebelum mengajar saya isi dulu, nanti pulang sekolah ambil lagi,” ujarnya.
Perjalanan menuju sumber air pun bukan perkara mudah. Lokasinya berada di lembah, melewati jalan tanah di tengah persawahan. Medan yang curam dan menantang menjadi bagian dari perjuangan. Perlu kondisi badan yang fit agar bisa naik turun ke lokasi ini. Jika tidak, pusing dan rasa mual adalah efek paling sering dirasakan.

Kini, di sana sudah berdiri sebuah bak penampungan air yang kokoh hasil dari kerja keras warga. Bapak-bapak yang menemani kami ke sumber air ini bergantian saling bercerita tentang sulitnya memecah tanah berbatu-batu itu untuk membuat sebuah bak sebesar 30 m². Bahan material harus diangkut satu per satu dari jalan utama yang lokasinya di atas. Material diangkut melalui jalan sempit, bahkan terkadang melalui jalur yang lebih curam demi efisiensi.
Sementara jaringan pipa ke rumah warga memanfaatkan instalasi lama yang direvitalisasi. Meski sumber air berada di lokasi yang ekstrem dan membutuhkan biaya lebih besar, debitnya yang stabil menjadikannya pilihan paling rasional dibandingkan sumur bor yang kerap mengering. Setiap cerita tentang proses pembangunan selalu diiringi dengan kebanggaan. Keringat yang jatuh di tanah itu kini menjelma menjadi aliran air yang menghidupi.
Dari sumber air, rombongan menuju bak penampungan di bagian atas dusun. Di dekatnya berdiri KB Yudhistira, tempat anak-anak belajar dan bermain. Di sinilah air memiliki makna yang lebih luas. Bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga bagian dari pendidikan hidup bersih. Bu Ning menceritakan bahwa kebutuhan air untuk operasional KB cukup besar.
“Air itu penting sekali untuk anak-anak,” jelas Bu Ning. “Ya, paling utama untuk menanamkan pola hidup bersih, Kak. Untuk cuci tangan dan kaki setelah aktivitas, sebelum makan bersama apalagi dengan adanya MBG (Makan Bergizi Gratis), biasa untuk BAB juga, untuk pel lantai dan bersih bersih, seminggu sekali kami merebus air minum untuk kebutuhan air minum harian anak-anak dan guru, serta semester sekali untuk mencuci mainan dan peralatan belajar mengajar.”
Di wilayah perbukitan Menoreh seperti Kulon Progo, kekeringan saat musim kemarau adalah keniscayaan. Sumur-sumur mengering, dan warga harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air. Bantuan truk tangki dari pemerintah desa atau lembaga lain kerap menjadi solusi sementara. “Sekolah ini mendapatkan bantuan 1 truk tangki air dari pemerintah desa atau lembaga lain ketika kemarau panjang,” lanjut Bu Ning. Namun, tidak semua warga mampu membeli air secara mandiri. Bantuan truk air ini juga kadang diberikan ke warga melalui masjid sehingga warga yang membutuhkan dapat mengambil ke masjid terdekat.

Setelah melihat fasilitas secara langsung, kami kembali ke rumah Ibu Dukuh, Ibu Wiwit, untuk melanjutkan acara seremonial serah terima fasilitas dari GNI kepada masyarakat yang disaksikan oleh perwakilan pihak desa, perwakilan KPSPAM dan perwakilan penerima manfaat. Warga berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh makna. Di balik hidangan kacang rebus, pisang hangat, dan teh manis, terselip rasa syukur yang lama tertahan. Hari itu, air bersih kembali mengalir ke rumah-rumah mereka, sesuatu yang selama bertahun-tahun terasa jauh dari jangkauan.
Dalam momen tersebut, pengelolaan fasilitas diserahkan kepada Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) Giri Tirta, yang telah resmi dibentuk melalui SK Desa No. 40 Tahun 2025. Kelompok ini menjadi ujung tombak keberlanjutan program, dengan komitmen pengelolaan mandiri dan inklusif, termasuk keterwakilan perempuan di dalamnya. Serah terima diwakili oleh Manager Program CDP Yogyakarta, Bapak Makrus Ali kepada ketua KPSPAM.
Peran Ibu Wiwit sebagai dukuh perempuan juga menjadi bukti bahwa kepemimpinan lokal yang inklusif mampu menggerakkan perubahan nyata. Sejak awal, ia aktif mengorganisir warga, memastikan setiap tahapan berjalan dengan partisipasi penuh masyarakat.
Di tengah suasana hangat ini pula saya berkesempatan menjelaskan kisah lain di balik seluruh program Air Bersih Pringapus ini, tentang orang-orang yang berlari di tempat yang jauh dari dusun mereka, yang bagi warga, konsep itu terdengar asing. Program ini berjalan karena tangan baik banyak orang yang terlibat dalam kegiatan Run & Rise 2025 di Bintaro beberapa waktu lalu. Mereka bahagia mendengar ada banyak orang baik di luar sana yang mau peduli dengan orang-orang yang jauh jaraknya dari mereka tinggal.
Ucapan terima kasih pun mengalir tulus. “Terima kasih atas pembangunan ini. Semoga menjadi amal yang terus mengalir,” ujar Pak Sulis, perwakilan pemerintah kalurahan.
Mbah Sardi menambahkan dengan suara bergetar, “Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak dan mendoakan orang-orang yang sudah berdonasi untuk program ini.”
Di hari itu, Pringapus tidak sekadar meresmikan fasilitas air. Mereka merayakan kembalinya harapan. Air yang mengalir di pipa-pipa rumah kini membawa lebih dari sekadar kehidupan, tetapi juga membawa rasa aman, martabat, dan masa depan yang lebih layak.
Dan di antara tawa anak-anak serta obrolan hangat warga, terselip satu hal yang tak kasat mata: keyakinan bahwa perubahan, sekecil apa pun, selalu mungkin terjadi ketika banyak tangan saling menggenggam.
Baca Juga:
Ditulis oleh: Asfiyani – MELA Officer
Diedit oleh: Fundraising and Communications Dept.
Mengalirkan Kembali Air Bersih
Sejak bulan Agustus 2025, proses ini diinisiasi dari diskusi konsultasi yang melibatkan banyak pihak seperti Kepala Desa Kalurahan Giripurwo, Dukuh Pringapus, Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) Giri Tirta, dan Fasilitator PAMSIMAS untuk merevitalisasi fasilitas air bersih yang telah ada sebelumnya.Fasilitas air bersih ini sudah lama terbengkalai karena sumber air yang berasal dari sumur bor kering. Debit airnya pun kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan 100 KK yang mencapai 303 warga untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan kurangnya air justru merusak fungsi pompa yang telah ada.
Pembangunan ini didukung oleh GNI melalui pengadaan material, namun pengerjaannya 100 persen dilakukan dengan gotong royong sukarela, sebuah nilai sosial yang masih sangat kuat dalam masyarakat Jawa.
Kesulitan Masyarakat Sebelum Adanya Harapan Akan Air Bersih

Lebih menarik lagi ketika mendengarkan cerita-cerita dari warga saat peresmian dilakukan. Warga berbagi tentang bagaimana mereka menjalani hidup dan bertahan dengan kondisi alam yang ada. Kisah-kisah tentang sulitnya air menjadi bagian dari ingatan kolektif warga.
Mbah Sardi, salah satu tokoh masyarakat, mengenang bagaimana musim kemarau selalu menjadi masa paling berat. “Setiap kemarau kita kehabisan air, jadi harus mencari air jauh. Sudah terbiasa,” tuturnya pelan.
Cerita serupa datang dari Bu Ning, Kepala Sekolah Kelompok Bermain Yudhistira. Ia mengingat masa kecilnya di tahun 1990-an, ketika warga harus menggendong tembikar untuk mengambil air. Kebiasaan itu, meski dengan wadah berbeda seperti jerigen atau galon, ternyata masih berlangsung hingga kini.
Bagi sebagian warga, air bersih bahkan harus diambil dari dusun lain. Bu Yuriyah, seorang guru di KB Yudhistira, masih rutin mengambil air minum dari sumber di pinggir sungai di Dusun Sabrang. Di sana sudah ada sumber air yang sudah tersertifikasi aman oleh Puskesmas. “Untuk minum saya khusus ambil dari mata air itu, Kak. Kalau untuk cuci kakus, mungkin bisa air apa saja. Sebelum mengajar saya isi dulu, nanti pulang sekolah ambil lagi,” ujarnya.
Perjalanan menuju sumber air pun bukan perkara mudah. Lokasinya berada di lembah, melewati jalan tanah di tengah persawahan. Medan yang curam dan menantang menjadi bagian dari perjuangan. Perlu kondisi badan yang fit agar bisa naik turun ke lokasi ini. Jika tidak, pusing dan rasa mual adalah efek paling sering dirasakan.
Kolaborasi Dalam Menghadirkan Air Bersih untuk Anak Pringapus

Kini, di sana sudah berdiri sebuah bak penampungan air yang kokoh hasil dari kerja keras warga. Bapak-bapak yang menemani kami ke sumber air ini bergantian saling bercerita tentang sulitnya memecah tanah berbatu-batu itu untuk membuat sebuah bak sebesar 30 m². Bahan material harus diangkut satu per satu dari jalan utama yang lokasinya di atas. Material diangkut melalui jalan sempit, bahkan terkadang melalui jalur yang lebih curam demi efisiensi.
Sementara jaringan pipa ke rumah warga memanfaatkan instalasi lama yang direvitalisasi. Meski sumber air berada di lokasi yang ekstrem dan membutuhkan biaya lebih besar, debitnya yang stabil menjadikannya pilihan paling rasional dibandingkan sumur bor yang kerap mengering. Setiap cerita tentang proses pembangunan selalu diiringi dengan kebanggaan. Keringat yang jatuh di tanah itu kini menjelma menjadi aliran air yang menghidupi.
Dari sumber air, rombongan menuju bak penampungan di bagian atas dusun. Di dekatnya berdiri KB Yudhistira, tempat anak-anak belajar dan bermain. Di sinilah air memiliki makna yang lebih luas. Bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga bagian dari pendidikan hidup bersih. Bu Ning menceritakan bahwa kebutuhan air untuk operasional KB cukup besar.
“Air itu penting sekali untuk anak-anak,” jelas Bu Ning. “Ya, paling utama untuk menanamkan pola hidup bersih, Kak. Untuk cuci tangan dan kaki setelah aktivitas, sebelum makan bersama apalagi dengan adanya MBG (Makan Bergizi Gratis), biasa untuk BAB juga, untuk pel lantai dan bersih bersih, seminggu sekali kami merebus air minum untuk kebutuhan air minum harian anak-anak dan guru, serta semester sekali untuk mencuci mainan dan peralatan belajar mengajar.”
Di wilayah perbukitan Menoreh seperti Kulon Progo, kekeringan saat musim kemarau adalah keniscayaan. Sumur-sumur mengering, dan warga harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air. Bantuan truk tangki dari pemerintah desa atau lembaga lain kerap menjadi solusi sementara. “Sekolah ini mendapatkan bantuan 1 truk tangki air dari pemerintah desa atau lembaga lain ketika kemarau panjang,” lanjut Bu Ning. Namun, tidak semua warga mampu membeli air secara mandiri. Bantuan truk air ini juga kadang diberikan ke warga melalui masjid sehingga warga yang membutuhkan dapat mengambil ke masjid terdekat.
Acara Seremonial yang Penuh Ekspresi Syukur

Setelah melihat fasilitas secara langsung, kami kembali ke rumah Ibu Dukuh, Ibu Wiwit, untuk melanjutkan acara seremonial serah terima fasilitas dari GNI kepada masyarakat yang disaksikan oleh perwakilan pihak desa, perwakilan KPSPAM dan perwakilan penerima manfaat. Warga berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh makna. Di balik hidangan kacang rebus, pisang hangat, dan teh manis, terselip rasa syukur yang lama tertahan. Hari itu, air bersih kembali mengalir ke rumah-rumah mereka, sesuatu yang selama bertahun-tahun terasa jauh dari jangkauan.
Dalam momen tersebut, pengelolaan fasilitas diserahkan kepada Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM) Giri Tirta, yang telah resmi dibentuk melalui SK Desa No. 40 Tahun 2025. Kelompok ini menjadi ujung tombak keberlanjutan program, dengan komitmen pengelolaan mandiri dan inklusif, termasuk keterwakilan perempuan di dalamnya. Serah terima diwakili oleh Manager Program CDP Yogyakarta, Bapak Makrus Ali kepada ketua KPSPAM.
Peran Ibu Wiwit sebagai dukuh perempuan juga menjadi bukti bahwa kepemimpinan lokal yang inklusif mampu menggerakkan perubahan nyata. Sejak awal, ia aktif mengorganisir warga, memastikan setiap tahapan berjalan dengan partisipasi penuh masyarakat.
Aliran Air yang Datang dari 1.100 Pelari
Di tengah suasana hangat ini pula saya berkesempatan menjelaskan kisah lain di balik seluruh program Air Bersih Pringapus ini, tentang orang-orang yang berlari di tempat yang jauh dari dusun mereka, yang bagi warga, konsep itu terdengar asing. Program ini berjalan karena tangan baik banyak orang yang terlibat dalam kegiatan Run & Rise 2025 di Bintaro beberapa waktu lalu. Mereka bahagia mendengar ada banyak orang baik di luar sana yang mau peduli dengan orang-orang yang jauh jaraknya dari mereka tinggal.Ucapan terima kasih pun mengalir tulus. “Terima kasih atas pembangunan ini. Semoga menjadi amal yang terus mengalir,” ujar Pak Sulis, perwakilan pemerintah kalurahan.
Mbah Sardi menambahkan dengan suara bergetar, “Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak dan mendoakan orang-orang yang sudah berdonasi untuk program ini.”
Di hari itu, Pringapus tidak sekadar meresmikan fasilitas air. Mereka merayakan kembalinya harapan. Air yang mengalir di pipa-pipa rumah kini membawa lebih dari sekadar kehidupan, tetapi juga membawa rasa aman, martabat, dan masa depan yang lebih layak.
Dan di antara tawa anak-anak serta obrolan hangat warga, terselip satu hal yang tak kasat mata: keyakinan bahwa perubahan, sekecil apa pun, selalu mungkin terjadi ketika banyak tangan saling menggenggam.
Baca Juga:
Dukungan Tanpa Akhir yang Mengiringi Perjalanan Alif dalam Membuka Usaha
Ditulis oleh: Asfiyani – MELA Officer
Diedit oleh: Fundraising and Communications Dept.
ID
EN