Meningkatkan Minat Baca Siswa Jeneponto melalui Reading Corner

thumb-1
thumb

By Gugah Nurani Indonesia

30 May 2025

461 Views

Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah


Berdasarkan data UNESCO dan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Minat baca buku masyarakat Indonesia masih sangat rendah, yaitu hanya di angka 0,001%. Artinya hanya ada 1 orang dari 1000 orang yang gemar membaca buku. Perlu adanya upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. 

Meningkatkan minat baca merupakan hal yang sangat penting. Membaca merupakan fondasi pengembangan diri dan pembelajaran. Melalui membaca kita dapat membuka wawasan dan dapat terlatih berpikir kritis. Minat baca memiliki korelasi dengan tingkat pendidikan. Di Indonesia sendiri, menurut Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indoensia (JPPI) terdapat kurang lebih  3 juta anak tidak bersekolah. 
 

Inisiai dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa

Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) sebagai salah satu NGO yang fokus pada pemenuhan hak anak turut andil dalam upaya peningkatan akses Masyarakat terhadap Pendidikan yang berkualitas. Mulai dari Pendidikan anak usia dini,  Pendidikan wajib 12 tahun, hingga peningkatan minat baca.  

Pada tahun 2024,  GNI - Jeneponto CDP (Community Development Project) melaksanakan kegiatan yang terkait sektor pendidikan yaitu upaya peningkatan minat baca siswa melalui pendekatan Reading Corner. Hal ini sejalan dengan target outcome dari CDP terkait dengan meningkatkan akses terhadap Pendidikan wajib 12 tahun.  

Jeneponto adalah salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang masuk kategori tertinggal dibandingkan dengan Kabupaten lainnya. Tak terkecuali di sektor pendidikan dimana jumlah Anak Tidak Sekolah di daerah ini tergolong sangat tinggi.

Kondisi tersebut menjadi dasar pertimbangan bagi para pihak untuk secara bersama-sama berkontribusi meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan yang kualitas, mulai dari pihak pemerintah, Perusahaan, NGO, maupun masyarakat sendiri. 

Berdasarkan hasil pengamatan di wilayah kerja CDP dimana terdapat kecenderungan anak anak usia sekolah  lebih sering memegang gadget daripada buku buku bacaan. Begitu pun jika mereka berada di sekolah, para siswa lebih cenderung bermain atau ngobrol sama temannya daripada berkunjung ke perpustakaan untuk membaca buku. 
 

Faktor yang Memengaruhi Rendahnya Minat Baca Siswa

Salah  seorang tenaga pendidik yang juga merupakan kepala sekolah, Bapak Sirajuddin,  di SMP Negeri 5 Bangkala, mengemukakan bahwa banyak hal yang menjadi faktor rendahnya minat baca siswa termasuk di antaranya adalah motivasi dari siswa itu sendiri, infrastruktur yang kurang memadai, dan juga lingkungan. Beliau melanjutkan bahwa kondisi tersebut juga terjadi di sekolahnya, dimana anak tidak berminat masuk di perpustakaan saat jam istirahat pelajaran, karena kurangnya minat dan juga dipengaruhi oleh  kondisi perpustakaan yang tidak menyenangkan.
 

Metode Reading Corner untuk Meningkatkan Minat Baca

Dengan berbagai macam kondisi tersebut, maka Jeneponto CDP mencoba melakukan upaya untuk menumbuhkan minat baca siswa di sekolah SMP Negeri 5 Bangkala melalui pendekatan Reading Corner. Strateginya adalah menghadirkan kondisi tempat membaca yang nyaman bagi siswa, dengan merenovasi salah satu ruangan di sekolah serta memberikan fasilitas pendukung yang dibutuhkan. Kegiatan renovasi mulai dilaksanakan pada bulan September oleh Tim Pelaksana Kegiatan yang telah ditetapkan. Selain renovasi ruangan, Reading corner juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa buku buku bacaan yang menarik, sound system, rak buku, meja dan kursi, computer, LED monitor, dan juga pendingin ruangan. Kegiatan support reading corner ini selesai dilaksanakan pada bulan Desember 2024, dan pengunaannya telah diresmikan oleh bapak PJ. Bupati Kabupaten Jeneponto. Turut hadir dalam kegiatan persemian tersebut Ibu Sekreatris Yayasan Gugah Nurani Indonesia. 

Dampak Positive Reading Corner

Saat ini Reading Corner telah dimanfaatkan oleh siswa siswi di SMP Negeri 5, dan berdasarkan informasi dari pihak sekolah bahwa sekarang anak anak senang masuk di perpustakaan pada saat jam istirahat Pelajaran. 

Pihak sekolah juga sudah membuat system agar setiap siswa dapat giliran masuk ke dalam perpustakaan  yang mereka namakan Moving Class. System ini dibuat oleh pihak sekolah sebagai salah satu langkah awal untuk menumbuhkan minat baca siswa dengan membuat mereka harus masuk ke perpustakaan minimal sekali seminggu. Pihak sekolah juga telah menambahkan space pada reading corner bagi siswa siswi yang ingin membaca di luar ruangan.  

Baca juga:

 

Wujudkan Surabaya Kota Ramah Anak melalui Sosialisasi Perlindungan Anak di Semampir

Pencegahan Pernikahan Usia Dini dengan Curhat bersama Konselor Sebaya


Ditulis oleh: Edwardus Ada
Diedit oleh: Tim FD

Sumber:
Kompas.com
Medcom.id

Tags:

WhatsApp