Mendorong UMKM Naik Kelas: Kolaborasi Pelatihan 3 Hari Perkuat Legalitas, Kapasitas, dan Keberlanjutan Usaha di Kulon Progo

thumb-1
thumb

By Gugah Nurani Indonesia

11 May 2026

15 Views

Upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan melalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Selama tiga hari, pada 13–15 April 2026, Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) bersama Dinas Koperasi dan UKM DIY serta Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kulon Progo menyelenggarakan Pelatihan Kelembagaan Usaha bagi kelompok usaha dampingan di Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo. 

Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus praktik nyata bagi pelaku UMKM untuk memperkuat fondasi usaha mereka, mulai dari aspek legalitas hingga strategi pengembangan bisnis. Pelatihan ini diikuti oleh 6 pelaku usaha yang mewakili empat jenis usaha, yaitu budidaya lele, pengolahan kelapa, olahan pangan berbahan singkong, dan usaha angkringan. 
 

Transfer Pengetahuan dan Pendampingan Langsung


Keenam pelaku usaha ini terpilih karena dianggap mampu memberikan contoh kegigihan dalam mengelola usaha di wilayah dampingan, yakni Kalurahan Pendoworejo dan Kalurahan Jatimulyo. Kegiatan pelatihan dirancang tidak hanya sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pendampingan langsung agar peserta mampu mengaplikasikan materi secara nyata dalam usaha mereka.

Pada hari pertama, peserta dibekali pemahaman mengenai pentingnya legalitas usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal. Lebih dari sekedar materi, peserta didampingi secara langsung dalam proses pengurusan, sehingga seluruh kelompok kini telah memiliki legalitas usaha yang diperlukan. Bahkan, satu kelompok berhasil menyelesaikan proses penerbitan NIB dan sertifikat halal secara penuh dalam kegiatan tersebut.

Pendekatan pembelajaran yang diterapkan juga menghadirkan praktik baik dari pelaku UMKM yang telah lebih dulu berhasil. Setiap hari, peserta mendapatkan kesempatan berdiskusi langsung dengan praktisi usaha dari berbagai wilayah, termasuk Kulon Progo dan Sleman. Kehadiran mereka membuka ruang refleksi dan pembelajaran kontekstual, memperkaya perspektif peserta mengenai perbedaan regulasi, jejaring usaha, serta strategi bertahan dan berkembang dalam berbagai kondisi.

Memasuki hari kedua, fokus pelatihan beralih pada penguatan operasional usaha, khususnya dalam pengelolaan beban kerja dan peningkatan produktivitas. Peserta diajak memahami bagaimana pembagian tugas yang efektif, pengelolaan waktu, serta pemanfaatan sumber daya dapat meningkatkan efisiensi usaha. 

Melalui studi kasus, peserta melihat secara nyata bagaimana intervensi sederhana dapat meningkatkan produktivitas hingga 25 persen dan menurunkan tingkat kesalahan produksi. Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, setiap kelompok juga diberikan tugas membuat video promosi sebagai langkah awal dalam mengembangkan pemasaran digital.

Hari ketiga menjadi ruang bagi peserta untuk merefleksikan dan menganalisis usaha mereka secara lebih mendalam. Melalui pendekatan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), peserta mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi. 

Selain itu, materi pengelolaan keuangan sederhana dan perhitungan harga pokok produksi (HPP) memberikan bekal penting agar pelaku usaha mampu mengambil keputusan berbasis data. Tidak hanya berhenti pada teori, peserta juga langsung mempraktikkan pencatatan keuangan dan simulasi penentuan harga jual yang realistis.
 

Pelatihan Berkelanjutan 


Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak cukup dilakukan melalui pelatihan semata, tetapi perlu didukung dengan pendekatan yang praktis, partisipatif, dan kontekstual. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga non-pemerintah menjadi kunci dalam memastikan bahwa pelaku usaha tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik sehari-hari.

Lebih dari sekadar peningkatan kapasitas, pelatihan ini menjadi langkah awal bagi para pelaku UMKM untuk membangun usaha yang lebih profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dengan legalitas yang telah terpenuhi, pemahaman manajemen yang semakin kuat, serta jejaring yang semakin luas, para peserta kini memiliki pondasi yang lebih kokoh untuk berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi komunitasnya.

Ke depan, pendampingan lanjutan akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa setiap pembelajaran dapat diimplementasikan secara konsisten. Harapannya, inisiatif ini tidak hanya memperkuat usaha individu, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan di Kulon Progo. Pendampingan lanjutan akan menggandeng PLUT-KUMKM (Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) sebagai mentor inkubasi bisnis.

Baca Juga:

Tidak Ada Anak yang Tertinggal: GNI Perkuat PAUD Inklusif di Kulon Progo

Membangun Mimpi Anak Jeneponto: Peresmian Reading Corner untuk Masa Depan Literasi Anak

Ditulis oleh: Asfiyani - MELA 

Diedit oleh: Fundraising & Communications Dept. 

Tags:

WhatsApp