From Zero to Hero: Kisah nyata Bapak Yosef Ampur sebagai anggota koperasi Legejur Lingko Mandiri (Legeliman)

thumb-1
thumb

By Gugah Nurani Indonesia

24 March 2025

875 Views

Sore itu langit tampak mendung saat tim DME (Design, Monitoring, adn Evaluation) yang ditemani oleh CDPM (Community Development Project Manager) Borong dan seorang relawan, berangkat menuju desa Compang Ndejing, Borong.

Perjalanan tersebut bertujuan untuk bertemu dengan salah seorang anggota koperasi Legejur Lingko Mandiri atau yang biasa disebut dengan Legeliman. Adapun anggota koperasi yang akan kami kunjungi tersebut merupakan seorang petani hotikultura, bernama Bapak Yosef Ampur yang telah berusia 45 tahun dan biasa dipanggil dengan pak Yos. 

Dari informasi yang kami peroleh sebelumnya, beliau bersama mama—demikian beliau menyebut sang istri— dikaruniai 4 orang anak yang semuanya merupakan anak sponsor GNI. Anak pertamanya dulu merupakan anak sponsor Gugah Nurani Indonesia. Kini ia baru saja menyelesaikan kuliah di salah satu universitas swasta dan diterima bekerja di perusahaan penerbangan di Bali. Sedangkan tiga anak lainnya masih merupakan bagian dari anak sponsor.

Sesampainya di tempat yang dituju, kami disambut oleh beberapa remaja yang sedang beristirahat di teras sebuah rumah kecil di samping pohon jambu mede. Para remaja tersebut merupakan siswa SMK yang berasal dari desa Golo Lowe, Manggarai Barat yang sedang menjalani program magang di pertanian holtikultura yang dikelola oleh pak Yos. 

Kamipun memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan, yaitu untuk menemui Pak Yos. Namun, beliau tidak berada di tempat, karena sedang ada urusan sebentar di tempat lain. Sehingga, kami pun memutuskan untuk menunggu sambil ngobrol santai dengan para siswa magang tersebut. Tidak lama kemudian Pak Yosef pun datang bersama mama dan langsung bergabung bersama kami seraya memperkenalkan diri pada tim DME HO.
 

AWAL BERTANI HOLTIKULTURA


Sebelum menjadi petani holtikultura, Pak Yos bekerja sebagai seorang supir mobil travel lintas wilayah Manggarai. Di samping itu, beliau juga memiliki lahan perkebunan di belakang rumah yang digunakan untuk bercocok tanam. 

Berhubung beliau kekurangan modal, hanya memiliki uang sejumlah Rp.1.000.000 untuk memulai membeli benih dan obat-obatan pertanian. Sehingga, beliau pun berbagi peran dengan mama, dimana beliau bekerja sebagai supir dan mama menggarap kebun.

Pada awal memulai usaha pertanian, Pak Yos dan istri hanya mengandalkan lahan pribadi yang tidak begitu luas, hanya sekitar 300m². Kemudian setengah dari lahan tersebut ditanam padi, dan sisanya dibagi-bagi untuk menanam sawi, cabe keriting dan tomat. Namun meskipun lahan untuk menanam cabe lebih sedikit, perbandingan hasilnya justru jauh lebih menguntungkan dari pada padi. 

Keuntungan itu dapat dilihat dari penghasilannya ketika memasuki musim panen yaitu sekitar Rp.300.000 – Rp.500.000 sekali panen dengan masa panen setiap minggu. Hasil panen tersebut dikumpul beliau untuk menambah modal usaha pertaniannya.
 

BERKEMBANGNYA PERTANIAN HOLTIKULTURA

Pada pertengahan tahun 2017, Pak Yos mulai mengenal GNI karena saat itu anak pertamanya terdaftar sebagai anak sponsor. Kebetulan saat itu salah seorang staf CDP Borong memiliki keahlian di bidang pertanian holtikultura, khususnya melon. Melihat adanya potensi yang bagus terhadap lahan pertanian milik pak Yos, yang dekat dengan sumber air, staf CDP Borong tersebutpun menawarkan bantuan bagaimana cara bertanam melon yang baik. 

Sebagai modal awal dibutuhkan sejumlah Rp.7.500.000 yang dikumpulkan degan sistem berbagi, yaitu setengah berasal dari uang pribadi Pak Yos dan setengahnya lagi dari uang pribadi staf GNI tersebut, dan diprediksikan bertani melon akan memiliki potensi memperoleh keuntungan lebih besar dari pada padi. Saat uji coba pertama bertani melon, langsung menunjukkan hasil yang memuaskan.

Seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 2021 ada pergantian pastor di paroki atau gereja tempat Pak Yos dan keluarga beribadah. Kebetulan pastor yang baru tersebut ahli di bidang pertanian dan saat melihat lahan disekitar gereja kosong karena tidak ada yang mengolah, beliau mengutarakan niatnya untuk mencari petani yang mau kerja dengan sungguh-sungguh di kebun. 

Saat itu, kebetulan Pak Yos masih memiliki sisa hasil panen melon dan memberikannya pada pastor tersebut. Begitu merasakan melon yang diberikan terasa enak dan manis saat dimakan, beliau pun meminta Pak Yos untuk memperlihatkan kebun yang ada di belakang rumahnya.

Sesampainya di lahan pertanian milik pak Yos, pastor baru tersebut sangat tertarik melihat seluruh tanaman di lahan tersebut tumbuh dengan subur dan baik. Tampak jelas jika seluruh tanaman tersebut dirawat dengan baik. Sehingga beliau menawarkan lahan milik paroki agar dapat digarap oleh pak Yos secara cuma-cuma. Namun sebagai bentuk ungkapan terimakasih, pak Yos selalu memberikan 10% hasil panen ke paroki tersebut. 
 

HIKMAH DARI SEBUAH KEBERHASILAN

Pada awal pak Yos mulai menggarap lahan yang dipinjamkan oleh paroki, warga di sekitar lahan tersebut ikut membantu beliau sebagai relawan. Meskipun hanya beliau yang diberi kepercayaan oleh paroki, tidak ada rasa cemburu atau iri hati dari seluruh warga sekitar. Bahkan mereka ikut membantu membuat pagar di sekeliling lahan secara sukarela. Karena para warga berpendapat lebih baik lahan kosong tersebut ada yang mau mengelolanya secara serius dari pada dibiarkan kosong menjadi lahan terlantar.

Saat itu pihak paroki tidak hanya memberikan lahan saja untuk dikelola oleh pak Yos, namun juga memberikan bibit melon dan semangka sebagai uji coba, serta tenaga dari beberapa orang jemaat untuk menggarap lahan tersebut. 

Hal ini disebabkan Pak Yos belum memiliki modal untuk memulai bercocok tanam di lahan tersebut. Dari hasil uji coba tersebut, Pak Yos berhasil memperoleh panen hingga 90% bibit yang ditanam dan 10% hasil panen tersebut diberikan untuk paroki sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih.

Setelahnya, Pak Yos bermaksud untuk mengembangkan usaha pertaniannyalebih luas lagi. Namun, terbentur dengan modal yang terbilang cukup besar. Hingga akhirnya beliau memutuskan menjadi anggota koperasi Legejur Lingko Mandiri (Legeliman)  agar dapat mengakses pinjaman sebagai modal tambahan. 

Adapun pinjaman tersebut beliau gunakan untuk membeli benih dari berbagai tanaman, seperti melon, cabai, terong, tomat dan bawang merah. Di samping itu pinjaman tersebut digunakan juga untuk membali obat-obatan pertanian dan membayar upah harian tenaga kerja sekitar 4-15 orang untuk membantu proses menanaman benih, perawatan hingga pemanenan.

Berkat keberhasilan Pak Yos di bidang pertanian, usaha pertanian beliau menjadi salah satu tempat praktek kerja lapangan dan pembelajaran oleh para mahasiswa/i dari fakultas pertanian universitas St. Paulus, Ruteng di samping menjadi tempat magang siswa/i kejuruan. 

Bahkan keberhasilan tersebut berdampak pada kehidupan sosial beliau, dengan menjadi petani hortikultura, beliau dapat membantu terwujudnya hidup sehat. Sebab tetangga sekitar bisa membeli sayur dan buah tanpa harus pergi jauh ke desa sebalah, membuka lapangan kerja bagi para tetangga untuk menjadi buruh tani harian, dan bisa menerapkan hidup sehat dengan mengkonsumsi sayuran dan buah.

Di samping itu pak Yos dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganyna, menjamin pendidikan anak dan uang hasil panen diputar lagi untuk modal berkebun. Penghasilan beliau juga lebih stabil, bahkan bisa membiayai adiknya sendiri sampai sarjana.

Baca juga:

Nyala Harapan di Desa Sano Lokong: Pemerataan Listrik untuk Masyarakat

Biannual Convention 2025: Tranformasi Menuju Organisasi yang Tangguh


 

Tags:

WhatsApp