Muhammad Valerian: Ingin Menjadi Inspirasi untuk Anak Meulaboh
By Gugah Nurani Indonesia
30 April 2025
586 Views
Meulaboh, Senin, 14 April 2025
Cuaca hari itu di Meulaboh, terasa terik menyengat kulit.sayaduduk dengan santai, menikmati sejuknya suhu udara yang keluar dari pendingin ruangan—Menunggu seorang responden yang merupakan salah satu mantan anak sponsor Gugah Nurani Indonesia (GNI) dari Community Development Project (CDP) Meulaboh. Sekilas saya melirik jam tanganku yang melingkar gagah di pergelangan tanganku. Jarum jamnya menunjukkan pukul 13.57 WIB, artinya masih ada waktu 3 menit lagi dari waktu yang telah kami sepakati sebelumnya.
Bertemu dengan Sosok Rian
Tepat pukul 14.00 WIB responden yang saya tunggu pun datang dengan menggunakan mobil sedan berwarna putih. Kemudian dia turun dari mobil dan masuk ke loby hotel tempatsayamenunggu.sayalangsung menyapanya dan menjulurkan tangan sambil berkenalan, “Halo, selamat jumpa,saya Ryan Hutagalung dari GNI Jakarta”.Diapun menyambut uluran tanganku dan juga menyahut sapaanku sambil memperkenalkan diri, “Halo juga, maaf sudah menunggu, ya.sayaValerian Nugraha, tapi biasa dipanggil dengan Rian”, sahutnya. “Wah, nama kita sama nih”, candaku untuk mencairkan suasana, Rian pun tertawa kecil mengiyakan.
Ini pertama kalinya saya datang ke Melaboh, mengetahui fakta tersebut Rian mengajak saya berkeliling bersama sambil mengobrol. Kamipun naik ke dalam mobil, kemudian Rian menyalakan mobil tersebut dan mengendarainya membelah jalanan Kabupaten Meulaboh.
Di dalam mobil, sambil fokus menyetir, Rian mengusulkan untuk napak tilas mengenang bencana gempa dan tsunami, tanggal 26 Desember 2004 lalu. Saya sama sekali tidak keberatan, karena pada dasarnya saya pun penasaran dengan peristiwa yang mencekam 20 tahun lalu.
Cerita Duka di Masa lalu
Saat mobil beranjak ke tempat yang akan kami tuju, saya mengambil kesempatan untuk bertanya tentang awal mula dirinya menjadi salah seorang anak dukungan GNI. Rian menjelaskan bahwa dirinya menjadi anak sponsor saat dia masih duduk di bangku kelas 4 SD.Saat itu ada beberapa orang staf dari CDP Meulaboh yang mendatangi sekolah tempat dirinya menuntut ilmu, untuk mengambil data anak-anak yang ingin dijadikan anak dukungan GNI. Kebetulan namanya masuk dalam salah satu daftar tersebut, dan kemudian staf CDP Meulaboh tersebut beberapa hari kemudian datang berkunjung ke rumahnya untuk survey.
Kedatangan staf CDP Meulaboh tersebut disambut hangat oleh ibunya, saat itu Rian hanya tinggal bersama ibunya. Namun, tba-tiba Rian berhenti bercerita, dan ketika saya melihatnya, wajahnya seolah memendam kesedihan yang mendalam dan matanya sedikit berkaca-kaca.
Dengan hati-hati saya pun bertanya dengan nada pelan, “Ada apa?”, ia menjawab dengan suara pelan dan bergetar, “Gak apa-apa, om. Tiba-tiba Rian teringat dengan kakak yang hilang saat terjadinya tsunami”. Saya tersentak mendengarnya.
Sejenak suasana di dalam mobil menjadi sunyi. Saya tidak mengeluarkan satu katapun untuk memberi kesempatan pada Rian, mengenang sekelumit tragedi yang menimpa keluarganya. Selang 2 menit, Rian pun melanjutkan ceritanya, bahwa sebenarnya dia memiliki seorang kakak yang usianya 2 tahun lebih tua darinya.
Saat tsunami terjadi, Rian, kakak dan ibunya terombang-ambing terbawa arus air yang begitu deras, antara tenggelam dan muncul ke permukaan air. Meski situasi mereka dalam keadaan diambang maut, namun ibunya tetap berusaha memegang erat tangan Rian dan kakaknya.
Tiba-tiba ada sebuah rakit yang menghampiri mereka. Ibunya pun berusaha mengangkat tubuh Rian naik ke atas rakit dengan satu tangan, sedangkan tangan ibunya yang satunya lagi masih memegang erat kakaknya. Malang tak dapat dihindari, saat ibu mereka akan mangangkat kakaknya ke rakit, gelombang kedua tsunami kembali menghantam daratan.
Tubuh ibunya yang sudah sangat lemah sekali akhirnya tak sanggup lagi mengangkat kakaknya, dan tangan ibunya yang memegang kakaknya perlahan terlepas sebelum berhasil naik ke rakit. Seketika itu pula Rian dan ibunya terkulai pingsan di atas rakit yang terombang-ambing dibawa arus air laut.
Saat sadar dari pingsan, tubuh Rian dan ibunya terkulai lemah tersangkut di atas pohon bakau. Begitu menyadari anak perempuannya tidak ada bersama mereka, ibunya pun menangis histeris memanggil-manggil nama anak perempuannya.
Lalu Rian kembali berhenti bercerita, sambil menghela nafas dan menghentikan mobilnya pada sebuah belokan jalan yang sepi. Di sekitar jalan tersebut tumbuh tanaman liar yang lebat dan tinggi. Rian pun menjelaskan bahwa di situlah lokasi dia dan ibunya terpisah dengan kakaknya untuk selamanya.
Awal Uluran Tangan Sponsor GNI
Tidak ingin lama-lama bersedih mengenang kakaknya, Rian kembali menjalankan mobilnya menuju jalur pantai tempat saksi bisu tragedi gempa dan tsunami 20 tahun lalu. Rian pun kembali melanjutkan cerita saat staf dari CDP Meulaboh selesai melakukan survey, dia diberitahu oleh ibunya bahwa dirinya telah terdaftar sebagai anak dukungan GNI. Rian yang kala itu tidak memahami apa yang dimaksud dengan anak dukungan GNI, mengangguk pelan pada ibunya.Di sela-sela cerita, Rian mengatakan bahwa menjadi salah satu anak dukungan GNI merupakan sebuah berkah dari Tuhan. Sebab sampai dia berusia 18 tahun, banyak mendapatkan benefit dari GNI, yaitu pemeriksaan rutin gigi dan mata, pemberian susu, mendapatkan perlengkapan sekolah seperti tas, seragam, buku tulis dan peralatan sekolah lainnya.
Rian juga mengatakan bahwa sebagai seorang anak yatim yang telah ditinggal pergi sang ayah saat berusia 2 tahun, dan diasuh oleh seorang ibu yang memiliki pekerjaan sebagai penjahit rumahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, semua bantuan yang diberikan oleh GNI sangat menolong meringankan beban ibunya.
Dampak Baik yang Menginspirasi
Apalagi biaya peralatan sekolah, seragam dan pemeriksaan gigi termasuk mahal di Meulaboh. Dengan menjadi anak dukungan GNI, biaya untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan dapat dialihkan ibunya untuk membeli kebutuhan lainnya.Di samping itu Rian juga mendapatkan kesempatan mengikuti les pelajaran tambahan secara gratis dari GNI, seperti pelajaran bahasa inggris. Untuk mengikuti les bahasa inggris normalnya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Rian juga sempat merasakan fasilitas perpustakaan keliling yang dibuat oleh CDP Meulaboh.
Mengikuti les bahasa inggris merupakan hal yang sangat berkesan bagi Rian meski hanya mengkutinya selama 3 bulan. Dia menjadi lebih banyak memahami kosa kata yang dapat membantunya memahami saat bermain games yang selalu menggunakan bahasa inggris. Juga dapat menambah kemampuannya berbicara dalam bahasa inggris.
Rian juga menambahkan, bahwa dengan menjadi anak dukungan GNI dirinya mendapatkan keuntungan lain di samping bantuan pendidikan, kesehatan dan ekonomi, yaitu pembentukan karakter dan pembenahan diri.
Rian merasakan wawasannya semakin bertambah tentang dunia luar ketika diminta membuat surat untuk orang tua asuh mereka. Bahkan dapat memberikan harapan bagi dirinya untuk dapat hidup lebih baik lagi kedepannya. Dia juga tidak pernah merasa minder atau rendah diri dengan siapapun, karena bantuan yang diberikan oleh GNI sedikit tidaknya membuat status sosialnya menjadi setara dengan anak-anak dari keluarga mampu.
Selain itu rian juga merasakan dampak positif menjadi anak dukungan GNI saat dia ikut melamar di kepolisian. Pemeriksaan gigi dan mata yang diterimanya selama menjadi anak dukungan, sangat berguna ketika dia melakukan test kesehatan, dimana kondisi gigi dan matanya dinyatakan sangat sehat untuk dapat lolos ke tahap berikutnya hingga Rian berhasil menjadi seorang polisi.
Mimpi yang Tergapai dan Semangat Menginspirasi
Tidak terasa Rian telah 5 tahun menjadi salah satu anggota kepolisian di Meulaboh. Selama 5 tahun itu pula Rian telah ditempatkan di berbagai bidang kepolisian. Mulai dari petugas lapangan, petugas lalu lintas, menjadi ajudan kepolres, hingga saat ini menjadi salah satu reserse bidang narkoba.Saat masih setahun menjadi anggota kepolisian, Rian pernah ditawarkan oleh CDP Meulaboh untuk memberikan testimoni pengalaman menjadi seorang anak dukungan GNI. Meski Rian sebenarnya terbilang pemalu, namun dia menerima tawaran tersebut.
Ketika saya tanyakan apa alasannya mau menerima tawaran tersebut, sedangkan dia seorang pemalu. Dengan tegas dan pasti Rian mengatakan, “Karena Rian ingin menjadi inspirasi bagi anak-anak di Meulaboh, terutama anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Apapun kondisi yang kita alami, jangan takut untuk memiliki cita-cita dan jangan pernah berhenti untuk menggapainya”, Kemudian ia menambahkan lagi dengan sorot mata penuh syukur, “Rian juga berterimakasih pada GNI, karena tanpa dukungan dari GNI, Rian belum tentu dapat seperti sekarang ini”.
Wawancara pun kami akhiri. Kami kembali ke jalur napak tilas peninggalan sejarah bencana gempa dan tsunami 20 tahun lalu. Di sana kami mengunjungi makam masal dan tugu peringatan tusnami. Perjalanan ditutup dengan menikmati minuman khas Meulaboh, yaitu kopi terbalik atau yang biasa disebut dengan kopi khop.
Sungguh perjalanan tak terlupakan yang sangat menginspirasi. Semoga semakin banyak anak yang bersemangat dan berani untuk menggapai cita-citanya. Serta semoga semakin banyak orang baik yang mau mendukung anak-anak untuk wujudkan cita-cita mereka.
Baca Juga:
Semangat Kartini Muda untuk Masa Depan Anak Enrekang
Mimpi Jumani untuk Mengabdi yang Menginspirasi
Ditulis oleh: Sumedi P. Hutagalung (Om/Tulang/Opung Ryan)Diedit oleh: FD Team
ID
EN