Air Mengalir untuk Masyarakat Cihaur Pasca Longsor
By Gugah Nurani Indonesia
24 June 2026
4 Views
Terbatasnya Pemenuhan Kebutuhan Pasca Bencana
Pada tanggal 1 Januari 2020, terjadi bencana alam tanah longsor yang cukup luas di Kecamatan Sukajaya dimana salah satu desa yang terdampak cukup parah adalah Desa Cileuksa. Di desa ini terdapat 15 kampung yang terkena dampak langsung dari bencana tersebut.
Akibat bencana ini, banyak rumah warga yang rusak dan tidak dapat dihuni kembali, sehingga pemerintah desa membangun rumah hunian sementara bagi warga Desa Cileuksa yang terdampak.
Namun, fasilitas rumah hunian sementara sangat terbatas. Sehingga, mengakibatkan warga yang menempati rumah tersebut menjadi tidak leluasa dalam menjalani kehidupan mereka setiap harinya.
Terutama fasilitas toilet yang dibangun sangat terbatas, yaitu 2 bilik untuk digunakan bersama-sama oleh satu kampung yang terdiri dari 30 – 50 kepala rumah tangga.
Meski demikian, hampir seluruh lokasi rumah hunian sementara tersebut berada dekat dengan sumber air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yaitu berupa mata air yang berasal dari pegunungan sekitarnya.
Namun, ada satu kampung yang tidak seberuntung kampung-kampung lainnya, yaitu kampung Cihaur, yang jauh dari sumber air. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari para warga harus menempuh jarak jauh ke sumber mata air di kampung lain.
Pada tahun 2024 dilakukanlah pembangunan hunian tetap di kampung-kampung di desa Cileuksa bagi warga yang terdampak bencana longsor, dimana salah satunya adalah kampung Cihaur.
Untungnya dari lokasi hunian tetap tersebut ada mata air yang jaraknya cukup dekat. Melihat kondisi tersebut, GNI ingin memfasilitasi pembangunan toilet agar penduduk di kampung Cihaur dapat memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan rumah tangga.
Peralihan Kebutuhan Masyarakat

Setelah hunian tetap (huntap) di Kampung Cihaur selesai dibangun, pada bulan Maret – April 2025 warga yang terdampak bencana longsor tahun 2020 mulai pindah dan menempati rumah-rumah tersebut.
Kemudian pada bulan Mei 2025, CDP Bogor melakukan asesmen ke Kampung Cihaur, permukiman permanen yang penghuninya berasal dari beberapa tempat penampungan sementara yang merupakan korban bencana tanah longsor pada tahun 2020.
Dari hasil asesmen ditemukan fakta bahwa kebutuhan masyarakat tersebut bukanlah renovasi toilet umum, melainkan penyediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Mulai dari untuk mandi, mencuci pakaian dan perabotan dapur dan untuk memasak serta konsumsi air minum bagi seluruh rumah tangga di hunian tetap.
Sayangnya, di sana tidak bisa dilakukan penggalian sumur sebab area kosong sekitar rumah sangat sempit dan dekat dengan sumber pembuangan jamban (Safetytank).
Di samping itu, lokasi huntap terletak di area dataran yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan penggalian yang sangat dalam hingga 50 meter untuk mendapatkan air. Biaya yang dibutuhkan pun tidak murah jika dibandingkan dengan penghasilan warga yang rata-rata merupakan petani.
Guna memenuhi kebutuhan akan air bagi rumah tangga mereka, para warga harus mengambil air ke perumahan warga yang terletak sekitar 500 meter dari hunian tetap tersebut.
Selama hampir 8 bulan mereka harus mengambil air ke perumahan tersebut setiap hari sebanyak 10 – 12 kali dengan menggunakan jeregen, gallon bekas air mineral dan ember, untuk kebutuhan mandi, mencuci pakaian dan memasak.
Hal tersebut membuat beberapa warga sering merasa kelelahan, sehingga energi mereka tidak maksimal saat pergi bekerja pada keesokan harinya.
Sementara itu jika mereka tidak pergi mengambil air untuk kebutuhan di rumah, makan kain kotor akan menumpuk, tidak dapat memasak dan anak-anak mereka juga tidak dapat mandi saat akan berangkat ke sekolah.
Air Mengalir Sampai Jauh
Pada bulan Juni 2025, CDP Bogor pun mulai melakukan persiapan untuk membangun saluran air dari mata air tersebut.
Setelah itu, pada bulan Juli 2025, mulailah dilakukan pemasangan pipa dari mata air ke tempat penampungan air berupa 3 toron berukuran 4.000 L, 2.000 L dan 1.050 L.
Sebelum air disalurkan ke rumah-rumah di hunian tetap di Kampung Cihaur, pada bulan Agustus terlebih dahulu dilakukan uji laboratorium terhadap kualitas air yang berasal dari mata air oleh PT. Aquatech Indonesia.
Hasil yang ditemukan pada sampel air, terdeteksi kandungan besi (Fe) sebesar 1.5mg/L melebihi ambang batas baku mutu air bersih.
Di samping itu, sampel air yang diuji juga disertai bau dan adanya endapan yang menunjukkan indikasi visual dan sensorik kemungkinan adanya senyawa organik.
Berdasarkan hasil uji kualitas air tersebut, maka pada bulan September 2025, CDP Bogor mulai melakukan persiapan untuk membangun aerator.
Pada bulan Oktober 2025, mulai dilakukan pembangunan instalasi aerator untuk mengolah air sehingga dapat mengurangi kandungan besi sehingga air aman untuk dikonsumsi.
Setelah instalasi aerator tersebut selesai dibangun, air bersih dapat disalurkan ke sejumlah 55 rumah tangga di Cihaur.
Angka tersebut terdiri dari 45 orang laki-laki dewasa, 54 orang perempuan dewasa, 43 orang anak laki-laki dan 30 orang anak perempuan. Sementara itu, proses pembangunan fasilitas ini memakan waktu sekitar 6 bulan sejak Juli - Desember 2025.
Baca Juga:
Kisah Inspiratif Tanzila Menuju Bangku Kuliah
Air yang Kembali Mengalir, Harapan yang Kembali Tumbuh di Dusun Pringapus, Yogyakarta
Ditulis oleh: Sumedi Parulian Hutagalung - Mela CDP Bogor
Diedit oleh: Fundraising and Communications Dept.
ID
EN