"Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin, melindungi anak, dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi." 
(UNICEF Indonesia)

Lebih dari 30 juta orang hidup dalam kemiskinan di negeri ini. Mereka hidup dengan pendapatan berkisar Rp 150.000/bulan sesuai komponen garis kemiskinan yang terus dikembangkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Persentase kemiskinan di Indonesia, meski terus bergerak dari tahun ke tahun, belum sepenuhnya dapat dikatakan sesuai harapan. Angka tersebut hanya berubah kecil sekali, selama kurang lebih jangka waktu sepuluh tahun yang dilansir oleh BPS, yaitu 1996 (17,47 %) sampai 2006 (17,75%). Kenyataan tersebut justru semakin mengkhawatirkan karena kemiskinan sepertinya tak menuai pengentasan yang maksimal di tanah air ini.

Sebagian besar penduduk miskin, entah di pedesaan maupun di perkotaan, mau tidak mau juga memunculkan fakta bahwa tingkat pendidikan juga masih rendah di Indonesia. Lebih dari itu, hal tersebut akhirnya juga merambat kepada bidang-bidang kehidupan lain, seperti kesehatan dan kualitas lingkungan hidup. Dalam keadaan seperti itu, timbul kekhawatiran dalam rumah tangga keluarga miskin, yakni persoalan merawat anak-anak mereka.

Bagaimana para orang tua menumbuhkembangkan generasi penerus bangsa tersebut? Apalagi terdapat fakta bahwa himpitan ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah adalah alasan utama bagi orang tua kebanyakan dalam melanggar hak-hak anak mereka. Anak-anak cenderung dijadikan tenaga tambahan untuk mencari nafkah keluarga. Terpaksa atau tidak, fase pertumbuhan anak berubah. Usia mereka yang seharusnya digunakan untuk bermain dan belajar, kini harus ada di tengah-tengah lingkungan yang tak bersahabat. Dipenuhi dengan pergaulan orang dewasa, rawan akan tindak kriminal, pelecehan, dan diskriminasi. 

Program Pusat Hak Anak (Child Right Center) digagas sebagai jawaban terhadap ancaman tersebut. Lingkungan, komunitas orang dewasa dan para orang tua di mana pun berada sudah semestinya harus terbangun secara ekonomi dan pendidikan. Melihat pentingnya pertumbuhan seorang anak, dengan memenuhi hak-haknya, berarti diperlukan peran lingkungan masyarakat yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena anak pada umumnya belum mampu memahami bahwa dirinya memiliki hak asasi yang harus dihormati oleh orang-orang di sekitarnya. Jika orang tua/dewasa di sekelilingnya tidak mengingatkan, bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan? Inilah yang menjadi fokus kerja GNI dalam program Pusat Hak Anak. Mengembangkan komunitas serta lingkungan fisik yang tidak sekedar mengerti, akan tetapi juga melaksanakan penegakan hak-hak anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Untuk saat ini, Gugah Nurani Indonesia mengoperasikan Pusat Hak Anak di 2 lokasi proyek, yaitu Rawa Badak CDP dan Menteng Tenggulun CDP. Pusat yang sudah berjalan sejak Februari 2010 ini, memfokuskan kegiatannya pada Perpustakaan dan Study Group. Setiap anak yang ada di komunitas dapat membaca dan bermain di Perpustakaan tersebut. Sedangkan untuk program Study Group, hanya dibatasi untuk beberapa anak karena keterbatasan ruang belajar serta keterbatasan waktu para sukarelawan sebagai pengajar.

Melalui Pusat Hak Anak ini, persepsi komunitas setahap demi setahap diharapkan berubah, khususnya para orang tua dalam memperhatikan kehidupan anak-anak mereka. Pusat Hak Anak ini juga diharapkan dapat menjadi wadah harapan komunitas, termasuk anak-anak, untuk menampung keluh kesah dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup yang kian menghimpit.